GORONTALO — Pengumuman Presiden Prabowo Subianto soal insentif motor listrik langsung memicu spekulasi di kalangan dealer dan konsumen. Pertanyaannya kini bukan lagi soal kapan cair, melainkan merek mana yang paling siap secara produksi dan rantai pasok. Dalam skema yang beredar di internal asosiasi industri, besaran subsidi akan dikaitkan erat dengan capaian lokal konten, bukan sekadar harga jual.
Kriteria TKDN Jadi Penentu Utama Besaran Subsidi
Kebijakan ini memberi keuntungan ganda bagi pabrikan yang sudah membangun pabrik baterai dan motor listrik di dalam negeri. Semakin tinggi persentase komponen lokal, semakin besar insentif yang bisa diklaim ke pemerintah. Hal ini sekaligus menjawab kritik publik terhadap program sebelumnya yang dinilai kurang selektif.
Pabrikan seperti Volta, Gesits, dan Alva disebut-sebut memiliki posisi tawar paling kuat. Ketiganya sudah memiliki fasilitas perakitan permanen dan jaringan pemasaran yang mapan, berbeda dengan pendatang baru yang masih mengimpor utuh dari China.
Volta dan Gesits: Pemain Lama yang Paling Diuntungkan
Volta dan Gesits merupakan dua merek yang konsisten mencatatkan penjualan ritel sejak 2021. Keduanya juga sudah menjalin kerja sama dengan bengkel konversi resmi, sehingga ekosistem baterai dan suku cadangnya lebih siap dibanding kompetitor.
Dengan skema insentif baru, selisih harga antara motor listrik dan motor bensin bisa menyempit hingga di bawah Rp 5 juta. Kondisi ini berpotensi menggeser preferensi konsumen perkotaan yang selama ini ragu karena harga awal yang tinggi.
Alva Incar Pangsa Pasar Menengah Atas
Alva, yang dikenal dengan model One dan Cervo, mengambil pendekatan berbeda dengan fokus pada desain dan fitur premium. Meski harganya di atas rata-rata, merek ini berpeluang besar menambah volume penjualan jika insentif yang diberikan berbentuk potongan langsung di dealer, bukan pengembalian dana di akhir tahun.
Pemerintah sendiri belum merinci mekanisme penyaluran dana, apakah melalui aplikasi daring atau langsung dipotong dari harga on the road. Kepastian ini dinilai krusial karena pengalaman program tahun lalu sempat tersendat di birokrasi administrasi.
Produsen Konversi Juga Akan Kebagian Jatah
Selain produsen motor baru, bengkel konversi yang terdaftar resmi juga masuk dalam daftar penerima manfaat. Mereka yang menggunakan motor bensin bekas dan mengubahnya menjadi listrik akan mendapat subsidi penggantian komponen mesin dan baterai.
Langkah ini dianggap paling cepat menekan emisi karbon di kota besar tanpa harus memaksa masyarakat membeli kendaraan baru. Namun, tantangan terbesar ada pada standarisasi kualitas dan garansi purna jual yang masih belum seragam antar bengkel.
Keputusan final soal daftar merek dan nominal subsidi dijadwalkan rampung sebelum kuartal ketiga tahun ini. Sampai saat itu, calon pembeli disarankan menunda pembelian jika tidak mendesak, karena potensi penghematan bisa mencapai belasan juta rupiah.