Musna Labaso (40) dan Rusmi Copa (53), nelayan perempuan asal Desa Bajo, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, kini hanya mampu membawa pulang sekitar 4 kilogram ikan sekali melaut. Angka itu merosot jauh dibandingkan hasil tangkapan mereka pada masa normal yang bisa menembus 10 kilogram hingga 20 kilogram per hari.
BOALEMO — Kedua perempuan ini telah berpuluh tahun menggantungkan hidup dari perairan Gorontalo. Sejak 2003, Musna terbiasa berlayar hingga dua hari menyeberang ke pulau yang jauh dari permukiman. Beberapa bulan terakhir, ombak yang makin tinggi dan cuaca tak menentu memaksanya bertahan di perairan dangkal.
Nasib Musna dan Rusmi menggambarkan tekanan berlapis yang dihadapi nelayan kecil di tengah krisis iklim. Di laut, mereka berhadapan dengan gelombang ekstrem. Begitu kembali ke darat, harga ikan justru kerap anjlok karena daya beli warga tergerus kemarau panjang.
Dua Arah Tekanan: Laut Kian Ganas, Harga Ikan Anjlok
Musna menceritakan, saat cuaca buruk dan pasokan ikan langka, harga jual di darat justru acap kali turun. Warga yang terdampak kemarau panjang memilih beralih ke bahan pangan lain saat harga ikan melambung.
"Kadang kami susah dapat ikan. Kalaupun dapat, belum tentu harganya bagus," ujarnya.
Kondisi ini menjepit Musna dalam dua ketidakpastian sekaligus. Ia tak punya pilihan pekerjaan lain selain melaut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Perahu Hancur Dihantam Ombak, Ruang Gerak Makin Sempit
Musibah datang pada Maret lalu. Perahu kecil yang menjadi penopang hidup Musna hancur dihantam ombak besar ketika ia menjangkau wilayah tangkapan jauhnya. Kini, ia hanya bisa menumpang perahu nelayan lain dengan bermodal tali nilon, pemberat timah, dan umpan cacing.
"Kalau cuaca tidak bagus, kami tidak bisa pergi jauh. Sekarang saya juga tidak punya perahu sendiri karena sudah rusak dihantam ombak. Jadi kalau mau melaut, saya harus ikut perahu orang lain," tuturnya.
Hal serupa dialami Rusmi. Sampannya telah hancur, sehingga ia menggantungkan peruntungan dengan ikut melaut bersama kakaknya. Konsekuensinya, hasil tangkapan ikan bobara atau oci harus dibagi. Beban makin berat saat biaya operasional bahan bakar mencapai 5 hingga 10 liter sekali jalan.
"Sudah keluar modal beli bahan bakar, kadang hanya dapat beberapa ekor ikan," keluh Rusmi.
Ikan Asin: Strategi Bertahan Saat Gelombang Tinggi
Saat cuaca buruk memaksa mereka absen melaut, keduanya memutar otak agar dapur tetap ngebul. Ikan lolosi berukuran kecil yang tak laku dijual dikeringkan menjadi ikan asin. Olahan sederhana ini menjadi penyambung hidup sekaligus cadangan pangan keluarga di darat.
"Kalau tidak bisa melaut, kami harus pikirkan mau makan apa. Makanya ikan kecil-kecil itu kami simpan dan keringkan supaya ada makanan," ujar Rusmi.
Di sinilah krisis iklim memperlihatkan dampaknya yang berlapis. Hari tanpa melaut bukan sekadar kehilangan potensi penghasilan, melainkan ancaman langsung terhadap ketahanan pangan rumah tangga.
Harapan untuk Kembali Berlayar Mandiri
Tanpa perahu sendiri, ruang gerak Musna sangat terbatas. Ia berharap pemerintah bisa mengulurkan bantuan agar ia kembali berlayar mandiri.
"Saya berharap bisa punya perahu lagi agar bisa kembali mencari ikan tanpa harus selalu menumpang," ucap Musna.
Jenis ikan tangkapan seperti goropa, katambak, hingga oci yang dulu melimpah kini makin sulit dipancing. Penurunan hasil laut itu berbanding lurus dengan pendapatan harian mereka. Bagi kedua perempuan yang hidup sebatang kara ini, laut tetap menjadi satu-satunya denyut nadi kehidupan yang tak bisa ditinggalkan.