JOMBANG — Keramahan warga Gorontalo terasa hingga ke tanah Jawa. Di sela-sela hiruk pikuk Muktamar NU ke-35, PW ISNU Gorontalo membuka stan yang menyajikan kopi Pinogu dan aneka kue tradisional secara gratis untuk seluruh peserta.
Stan yang berada di kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas ini menjadi salah satu titik paling ramai. Antusiasme terlihat ketika rombongan ibu-ibu Muslimat NU berbondong-bondong mendekat untuk mencicipi sajian yang dibawa langsung dari Gorontalo.
Bukan Sekadar Ngopi, Ini Cara ISNU Perkenalkan Daerah
Ketua PW ISNU Provinsi Gorontalo, Eduart Wolok, mengatakan kehadiran stan ini bukan sekadar bagi-bagi kopi gratis. Lebih dari itu, ini adalah upaya membawa nama Gorontalo ke kancah nasional melalui cita rasa.
"Kegiatan ini menjadi bagian dari semangat PW ISNU Gorontalo untuk memeriahkan Muktamar NU ke-35, sekaligus membawa nama Gorontalo melalui cita rasa kopi dan kuliner khas daerah," ujar Eduart dalam keterangannya, Selasa (4/2/2025).
Kopi Pinogu, Komoditas Andalan yang Naik Kelas
Kopi yang disajikan bukan kopi sembarangan. PW ISNU Gorontalo sengaja menghadirkan Kopi Pinogu, salah satu komoditas unggulan yang menjadi kebanggaan daerah. Langkah ini dinilai strategis untuk memperkenalkan potensi perkebunan lokal kepada khalayak yang lebih luas.
Selain kopi, stan ini juga menyediakan berbagai kue khas Gorontalo. Hal ini sekaligus menjadi ajang promosi kuliner yang selama ini jarang terekspos di luar wilayah Sulawesi.
Silaturahmi Kader NU Lintas Wilayah
Kehadiran stan ini ternyata memicu efek lain. Suasana di sekitar stan berubah menjadi arena silaturahmi hangat antara kader-kader NU asal Gorontalo dengan para muktamirin dari berbagai daerah.
Obrolan ringan tentang perbedaan budaya hingga diskusi organisasi mengalir di sela-sela menikmati kopi. Momen ini pun menjadi ruang pertukaran informasi yang efektif antara pengurus wilayah.
PW ISNU Gorontalo berharap langkah serupa bisa menginspirasi daerah lain untuk turut mempromosikan potensi lokalnya di setiap agenda nasional. Dengan begitu, Muktamar tidak hanya menjadi ajang musyawarah, tetapi juga panggung keberagaman budaya Indonesia.