Pencarian

Inflasi Gorontalo Tembus 5,30 Persen, Gen Z Terjepit Gaya Hidup dan Kebutuhan Pokok

Minggu, 30 Agustus 2026 • 00:09:02 WIB
Inflasi Gorontalo Tembus 5,30 Persen, Gen Z Terjepit Gaya Hidup dan Kebutuhan Pokok
Warga melintas di pusat perbelanjaan Kota Gorontalo, Senin (10/2/2025), saat inflasi daerah tercatat 5,30 persen.

GORONTALO — Tekanan ekonomi yang tercermin dari laju inflasi ini berjalan beriringan dengan data nasional yang menunjukkan lebih dari 48 persen Gen Z merasa tidak aman secara finansial. Survei Deloitte bahkan mencatat 55 persen dari mereka memilih menunda pernikahan demi mencapai stabilitas keuangan.

Kondisi itu diperparah dengan catatan BPS bahwa 67 persen total pengangguran nasional didominasi oleh kelompok usia ini. Namun di tengah keterbatasan, alokasi belanja untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru meningkat karena dianggap sebagai kebutuhan emosional, bukan sekadar kemewahan.

Algoritma dan FOMO yang Membelenggu Keseharian

Alih-alih hanya menyajikan informasi, algoritma media sosial disebut bekerja lebih jauh dengan mengubah tren menjadi kebutuhan. Rasa takut tertinggal atau FOMO (Fear of Missing Out) kemudian memengaruhi cara pandang Gen Z terhadap standar hidup, termasuk di Gorontalo.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Sistem ekonomi yang menempatkan materi sebagai standar kebahagiaan tertinggi dinilai mendorong gaya hidup hedonistik. Keinginan menikmati kesenangan instan seperti kuliner, hiburan, dan barang bermerek membuat banyak pekerja muda tergoda berbelanja di luar kemampuan finansial.

Untuk menutup kekurangan tersebut, pinjaman online dan kartu kredit kerap menjadi pelarian. Sayangnya, jeratan bunga justru membuat mereka terbelit tumpukan utang yang mencekik.

Merawat Orientasi Hidup agar Tidak Mudah Terombang-ambing

Aktivis Muslimah, Sri Maulana Dali, S.Pd, mengingatkan bahwa orientasi hidup yang hanya berpusat pada dunia akan membuat seseorang senantiasa merasa kurang. Ia menekankan pentingnya sikap kanaah, yakni merasa cukup atas hasil usaha dan rezeki yang diberikan setelah bekerja maksimal, serta kemampuan untuk hidup sesuai kemampuan.

"Aulawiyat atau kemampuan meletakkan sesuatu pada posisinya secara proporsional menjadi kunci. Jika uang hanya cukup untuk kebutuhan pokok, tidak seharusnya dibelanjakan untuk barang branded hanya karena takut FOMO," ujarnya.

Ia menambahkan, sumber daya alam yang melimpah di daerah justru dikuasai pemilik modal sehingga rakyat kesulitan menikmati hasilnya. Kondisi ini memaksa warga, termasuk generasi muda, berjuang keras memenuhi kebutuhan dasar di tengah sistem yang eksploitatif.

Menurut Sri, persoalan ini bukan sekadar soal gaya hidup individu, melainkan juga kegagalan sistem dalam menyediakan lapangan kerja dan kesejahteraan. Ia menilai pemisahan agama dari kehidupan telah menciptakan kerusakan di berbagai lini, dan generasi muda menjadi sasaran empuk eksploitasi kapitalisme.

Himpitan ekonomi yang dialami Gen Z di Gorontalo ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan hakiki tidak diukur dari kepemilikan materi. Ketika keimanan menjadi pondasi, setiap keputusan finansial akan dipertimbangkan dengan matang, bukan sekadar mengikuti arus tren sesaat.

Follow kabargorontalo.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: dailypost.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks