Pencarian

Danantara Pangkas 1.074 BUMN, 52 Persen Merugi Rp 23 Triliun

Senin, 26 Oktober 2026 • 12:50:31 WIB
Danantara Pangkas 1.074 BUMN, 52 Persen Merugi Rp 23 Triliun
COO Danantara Dony Oskaria berbicara dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026).

GORONTALO — Danantara Indonesia memangkas jumlah perusahaan pelat merah dari 1.074 menjadi kurang dari 200 entitas pada 2030. Langkah itu diambil setelah 52 persen BUMN tercatat merugi hingga Rp 23 triliun per tahun.

Paragraf pembuka: Peta jalan lima tahun Danantara Indonesia menempatkan konsolidasi sebagai pekerjaan pertama. Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menyebut perampingan struktur jadi syarat agar lembaga pengelola BUMN itu bisa bertahan dan mencetak dividen secara konsisten.

Ia menyampaikan hal itu dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026). Menurut Dony, kualitas pengelolaan perusahaan akan menentukan masa depan Danantara, bukan sekadar jumlah entitas yang dikelola.

Beban 1.074 Perusahaan

Dari 1.074 perusahaan di bawah naungan Danantara, sebanyak 52 persen di antaranya merugi dengan total mencapai Rp 23 triliun setiap tahun. Struktur perusahaan yang berlapis dan terlampau gemuk turut memicu pemborosan sekitar US$ 2 miliar atau setara Rp 31 triliun per tahun.

Masalah lain muncul dari sisi setoran dividen. Penerimaan Danantara nyaris seluruhnya bergantung pada segelintir perusahaan saja. "Lebih mudah bagi saya mengelola delapan perusahaan yang menyumbang 97% dividen daripada mengelola 1.074 perusahaan," ujar Dony.

Karena itu, arah penataan tiap BUMN ditentukan lewat sejumlah ukuran: standar global, kinerja keuangan, prospek industri, hingga kapasitas internal perusahaan.

Rincian Rencana Konsolidasi

Danantara menyiapkan empat jalur perampingan. Sekitar 200 perusahaan akan dikonsolidasi, 213 perusahaan dilikuidasi, 15 perusahaan disehatkan keuangannya, dan 280 perusahaan non-inti direstrukturisasi. Perusahaan di sektor sejenis juga akan digabung melalui merger agar struktur bisnis lebih ringkas.

Sebagian rencana itu sudah berjalan. Dalam 18 bulan terakhir, Danantara merampingkan 364 perusahaan. Targetnya, pada akhir 2026 sebanyak 750 perusahaan sudah selesai ditutup, digabung, atau dikonsolidasi.

Hasil yang Mulai Terlihat

Perombakan model bisnis mulai membuahkan hasil di sejumlah perusahaan. Laba bersih Semen Indonesia melesat hingga 427 persen, sementara Telkom Indonesia mencatat lonjakan laba bersih hingga 233 persen.

Di Pertamina, penggabungan tiga anak usaha hilir menghemat biaya hingga 1 miliar dolar AS hanya dalam enam bulan. Sektor bandara juga mencatat perbaikan: porsi pendapatan non-penerbangan seperti ritel dan properti naik dari 15 persen menjadi 30 persen. Rata-rata belanja penumpang di terminal ikut naik di atas 50 persen berkat pembenahan tata ruang.

"Transformasi ini belum selesai. Kami akan terus melakukan perubahan satu per satu terhadap perusahaan-perusahaan milik rakyat Indonesia," kata Dony.

Bidikan Go Public 2029-2030

Setelah konsolidasi, Danantara mengarahkan fokus ke pembenahan kualitas sumber daya manusia, budaya kerja, inovasi teknologi, dan diversifikasi bisnis. Pada rentang 2029-2030, BUMN berkinerja baik akan didorong melantai di bursa.

Langkah ini penting karena Danantara mengandalkan setoran dividen sebagai modal investasi. Pada 2026, Danantara menargetkan laba bersih BUMN menembus Rp 360 triliun dan menyetor dividen sekitar Rp 200 triliun ke kas negara.

Dengan 97 persen dividen masih ditopang segelintir perusahaan, keberhasilan konsolidasi akan menentukan apakah target setoran Rp 200 triliun itu bisa dicapai tanpa menambah beban fiskal negara.

Follow kabargorontalo.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: liputan6.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks