BOLAANG MONGONDOW — Rombongan ustadz dan ustadzah Pondok Pesantren Hubulo menyambangi rumah duka keluarga Azkayra Nafeeza Bakung, disertai perwakilan alumni. Sebelum bertemu keluarga, mereka lebih dulu berziarah ke makam korban yang tak jauh dari kediaman orang tuanya.
Pertemuan berlangsung penuh suasana kekeluargaan. Pihak pesantren memaparkan kronologi peristiwa berdasarkan keterangan kepala asrama putri dan ustadzah yang mendampingi rombongan saat kejadian.
Rekreasi Berawal dari Usulan Santri
Kepala Asrama Putri Ustadzah Wirnawati Hunawa menjelaskan, kegiatan rekreasi bermula dari inisiatif para santri. Usulan itu dibawa ke rapat pimpinan pesantren dan disetujui.
Kelas 1 mendapat jadwal rekreasi pada Jumat pekan ketiga, setelah kelas 6, 5, dan 4 menuntaskan kegiatan serupa dua pekan sebelumnya. Umi Wirna menugaskan Umi Nita Laya dan Umi Nur Rahmawati Paneo menjaga 41 santri kelas 1.
Keduanya didampingi 13 santriwati senior dari kelas 6, 5, dan 4. Total 54 santriwati berangkat ke lokasi wisata.
"Karena waktu itu saya masih ada acara keluarga maka Umi Nita dan Umi Rahma yang berangkat duluan. Saya mendapat kabar santriwati meninggal masih di acara, sehingga saya segera ke lokasi," ujar Umi Wirna dengan tangan gemetar dan terisak.
Detik-Detik Korban Tenggelam Saat Sesi Foto
Umi Nita menuturkan peristiwa berlangsung cepat. Sekitar pukul 11.00, santriwati diminta naik dari sungai karena mendekati waktu salat Jumat.
Sebelum naik, mereka meminta difoto lebih dulu. Santriwati terbagi dalam tiga kelompok. Dua kelompok di sisi kiri dan tengah difoto satu per satu, sementara kelompok kanan belum sempat diabadikan.
"Almarhumah ini di kelompok kiri. Dua kelompok ini sudah naik dan almarhumah ini pindah ke kelompok sebelah kanan yang masih di sungai," jelas Umi Nita.
Saat berbalik ke arah barang bawaan, belum sempat duduk, terdengar keributan dari arah sungai. Korban sudah dievakuasi ke bibir sungai dan sempat dipompa dada, namun tidak sadarkan diri.
Pesantren Akui Kesalahan dan Janji Berbenah
Wakil Pimpinan II Pondok Pesantren Hubulo, Ansor Mobilingo, menyampaikan permohonan maaf dan penyesalan atas peristiwa tersebut.
"Kami mohon maaf yang tulus atas peristiwa ini. Kami berjanji akan melakukan perbaikan," kata Ustadz Ansor Mobilingo.
Keluarga korban menyatakan telah memberi maaf secara tulus. Ayah korban, Dolot Alhasni Bakung, menyampaikan sejumlah permintaan kepada pihak pesantren.
"Kami ingin pihak pesantren menyampaikan press release ke media terkait kronologi, permohonan maaf terbuka dan memperbaiki SOP. Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran bagi pesantren," ungkap Dolot.
Dolot menyebut dirinya mencintai pesantren sebagaimana ia mencintai putrinya. Pernyataan itu disampaikan di hadapan rombongan ustadz dan alumni yang hadir.