Pencarian

Hilirisasi Mineral Dinilai Kunci Ketahanan Energi dan Industri RI

Sabtu, 12 September 2026 • 12:50:31 WIB
Hilirisasi Mineral Dinilai Kunci Ketahanan Energi dan Industri RI
Dirjen Minerba Kementerian ESDM Tri Winarno berbicara dalam seminar HUT ke-36 Perhapi di Jakarta, Kamis (10/9).

GORONTALOJakarta — Hilirisasi mineral tidak lagi sekadar soal menaikkan nilai jual komoditas tambang. Bagi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kebijakan ini menyangkut kemandirian industri dan posisi strategis Indonesia di rantai pasok energi global.

Pandangan itu disampaikan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Tri Winarno dalam seminar bertajuk "Industri Mineral dan Batu Bara: Kondisi Saat Ini dan Kontribusinya Bagi Masa Depan Bangsa dan Negara". Acara ini digelar dalam rangka HUT ke-36 Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) di Jakarta, Kamis (10/9).

Ketahanan Energi Tak Cukup Soal Sumber Energi

Tri menekankan bahwa ketahanan energi ke depan tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber energi. Penguasaan bahan baku, teknologi, hingga rantai pasok ikut menentukan.

"Ketahanan energi ke depan tidak hanya ditentukan oleh sumber energi, ketahanan energi juga ditentukan apakah kita menguasai bahan baku, teknologi rantai pasok, dan juga dari industri energi tersebut," ujarnya.

Menurut Tri, sektor pertambangan dan penggalian memberi kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) berada di kisaran 9%-12,5%.

Hilirisasi Dorong Nilai Tambah di Dalam Negeri

Hilirisasi dipandang sebagai salah satu mesin transformasi sektor mineral. Kebijakan ini mendorong penciptaan nilai tambah di dalam negeri, bukan lagi mengekspor bahan mentah.

Pengembangan industri pengolahan juga dinilai memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Hilirisasi telah diarahkan untuk membangun sejumlah industri strategis, mulai dari baterai kendaraan listrik, alumina, stainless steel, tembaga, logam mulia, hingga berbagai produk turunan mineral lainnya.

Kebutuhan energi yang terus membesar akan ikut menaikkan permintaan sejumlah mineral. Tembaga, misalnya, menjadi bahan penting dalam jaringan dan distribusi listrik. Tri menyebut kebutuhan tembaga akan makin besar seiring meningkatnya konsumsi listrik dan pembangunan infrastruktur energi.

Tata Kelola Timah Jadi Sorotan

Di sisi lain, tantangan pengelolaan komoditas dapat memengaruhi pasokan dan harga. Pemerintah pun mendorong perbaikan tata kelola sejumlah komoditas mineral, termasuk timah.

Tri menyatakan perbaikan tata kelola dan kebijakan terkait komoditas tersebut telah membuka ruang bagi peningkatan nilai ekonominya. Sayangnya, ia tidak merinci besaran kenaikan nilai ekonomi yang dimaksud.

Bagi pelaku industri, arah kebijakan ini menjadi sinyal bahwa pengolahan di dalam negeri akan terus jadi prioritas. Posisi Indonesia sebagai pemasok mineral dunia pun bergantung pada seberapa jauh rantai nilai bisa dikuasai sendiri, dari tambang hingga produk jadi.

Follow kabargorontalo.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: tambang.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks