Pencarian

Menko Airlangga: Transisi Energi Bukan Cuma Tekan Emisi, tapi Jadi Mesin Ekonomi Baru

Kamis, 27 Agustus 2026 • 20:29:31 WIB
Menko Airlangga: Transisi Energi Bukan Cuma Tekan Emisi, tapi Jadi Mesin Ekonomi Baru
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan pers mengenai transisi energi sebagai mesin ekonomi baru di Jakarta, Kamis.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan target emisi nol bersih (NZE) 2060 tidak hanya soal lingkungan, melainkan juga fondasi pertumbuhan ekonomi anyar lewat investasi dan industrialisasi. Kebijakan ini dinilai mampu menjaga stabilitas harga energi di tengah gejolak global, sembari mendorong pertumbuhan kendaraan listrik di dalam negeri.

JAKARTA — Pemerintah tengah menggenjot transisi energi sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru, bukan sekadar upaya menekan emisi karbon. Langkah ini diyakini mampu memperkuat ketahanan energi nasional dan menciptakan peluang usaha di tengah dinamika ekonomi global yang tidak menentu.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 sudah mencapai 5,45 persen. Capaian itu menempatkan Indonesia dalam jajaran tiga besar di antara negara ASEAN dan G20, dengan inflasi yang tetap terkendali.

Diversifikasi Energi dan Stabilitas Harga

Salah satu kunci menjaga stabilitas ekonomi adalah mengurangi ketergantungan pada energi impor. Pemerintah pun mendorong pemanfaatan energi domestik, termasuk perluasan penggunaan Biodiesel 50 (B50).

Kebijakan ini disebut membantu menahan tekanan inflasi dan menjaga harga energi tetap stabil. "Pertumbuhan ekonomi di semester satu itu sudah 5,45 persen. Indonesia dibandingkan negara ASEAN atau di negara G20 termasuk top three di atas," ujar Airlangga dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Investasi Manufaktur dan Data Center Tumbuh 7,2 Persen

Di sisi lain, investasi dan industrialisasi terus menjadi motor penggerak ekonomi. Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi pada semester I 2026 tumbuh sekitar 7,2 persen, ditopang sektor manufaktur dan rantai pasoknya.

Aktivitas itu juga terlihat dari meningkatnya kebutuhan listrik dan gas, serta perkembangan pesat sektor digital seperti pusat data (data center). Pemerintah turut mendorong pengembangan energi terbarukan dan peningkatan kapasitas produksi panel surya dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan energi hijau industri.

Kendaraan Hibrida Tumbuh 40 Persen, Tanda Kesadaran Masyarakat

Di sektor transportasi, pemerintah mendorong penggunaan berbagai teknologi rendah emisi sesuai karakteristik moda. Mulai dari perluasan B50, kendaraan listrik, bahan bakar nabati, hingga teknologi hidrogen.

Untuk kendaraan penumpang, kendaraan hibrida menjadi jembatan transisi menuju kendaraan listrik berbasis baterai. Pertumbuhan kendaraan jenis ini pada semester I 2026 tercatat melonjak sekitar 40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Dengan harga BBM nonsubsidi ikut fluktuasi harga, maka masyarakat melihat penggunaan electric vehicle (EV) akan menghemat biaya. Maka di semester satu ini peningkatan pertumbuhan daripada kendaraan yang berbasis hibrid itu 40 persen dibandingkan tahun lalu," jelas Airlangga.

Memperkuat Ekosistem Industri Otomotif Nasional

Perkembangan kendaraan rendah emisi tersebut menjadi bagian dari penguatan industri otomotif nasional. Pemerintah terus memperkuat ekosistemnya lewat pengembangan kemampuan produksi kendaraan, baterai, dan komponen di dalam negeri.

Penyesuaian fasilitas dukungan diarahkan untuk memperkuat ekosistem Mobil Nasional dan Motor Listrik Nasional sekaligus meningkatkan kandungan dan nilai tambah domestik. Sektor industri sendiri berkontribusi sekitar 18-19 persen terhadap perekonomian nasional, dengan otomotif menjadi salah satu sektor yang memiliki efek berganda cukup besar.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menambahkan, transformasi transportasi rendah emisi perlu berjalan bersama penguatan energi domestik, investasi, infrastruktur, industri, serta rantai pasok nasional.

"Transformasi transportasi rendah emisi bukan hanya mengenai perubahan teknologi kendaraan, tetapi juga bagaimana kita membangun ekosistem yang mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri," kata Haryo.

Dengan dukungan energi, infrastruktur, industri, dan rantai pasok yang semakin kuat, transisi energi disebut dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru sekaligus memperkuat daya saing Indonesia.

Follow kabargorontalo.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: gorontalo.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks