Pencarian

Ijuk di Olele Disulap Jadi Green Curtain, Warga Tak Lagi Jual Serat Aren Mentah Rp 6.000

Kamis, 27 Agustus 2026 • 09:27:31 WIB
Ijuk di Olele Disulap Jadi Green Curtain, Warga Tak Lagi Jual Serat Aren Mentah Rp 6.000
Warga UMKM Bunga Desa memasang jaring ijuk sebagai media rambat tanaman oyong di kawasan Olele, Gorontalo.

Masyarakat Desa Olele, Kecamatan Kabila Bone, Gorontalo, mulai mengolah ijuk atau serat pohon aren menjadi jaring tanaman rambat yang dikenal sebagai green curtain. Inovasi ini lahir dari pendampingan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) untuk membuka peluang ekonomi baru di luar sektor wisata bahari. Sebelumnya, satu lembar ijuk mentah hanya dihargai sekitar Rp 6.000 dan sulit mencari pembeli.

GORONTALO — Sulur oyong kini merambat di atas jaring berwarna hitam kecokelatan yang terpasang di sudut kawasan Olele. Jika dilihat sekilas, jaring itu tampak biasa saja. Padahal, bahan bakunya bukan plastik atau kawat, melainkan ijuk yang dipintal menjadi tali lalu dirangkai sedemikian rupa.

Di tangan warga yang tergabung dalam UMKM Bunga Desa, serat pohon aren yang selama ini hanya dikenal untuk sapu dan keset mendapat fungsi baru. Enam panel jaring telah dipasang di tiga titik percontohan dan ditanami oyong sebagai media rambat.

Mengapa Ijuk Kurang Diminati Selama Ini?

Ketua Tim Program Pemberdayaan Berbasis Wilayah (PBW) Olele 2026, Yayu Indriati Arifin, mengatakan persoalannya bukan bahan baku yang sulit ditemukan. Pohon aren masih banyak tumbuh di Gorontalo, tetapi pemanfaatannya belum berkembang.

“Jadi hampir tidak termanfaatkan. Padahal sumber pohon arennya masih ada,” kata Yayu.

Kondisi ekonomi masyarakat Olele yang selama ini menggantungkan hidup pada snorkeling dan diving membuat potensi daratan kurang tergarap. Padahal, kekayaan geologi dan budaya lokal bisa menjadi daya tarik wisata baru.

Dari Jaring Penghijau Menjadi Media Tanam Produktif

Proses produksi dimulai dengan mengenalkan mesin pemintal tali ijuk sistem ganda dan alat pembuat jaring modular kepada UMKM Bunga Desa. Ijuk dipintal, dirangkai, lalu dipasang sebagai media rambat tanaman.

Tanaman oyong dipilih karena tahan terhadap kondisi musim panas di Olele. Hasil panennya bisa dimanfaatkan sebagai bahan pangan, sehingga jaring tidak hanya berfungsi menghijaukan lingkungan tetapi juga memberi manfaat ekonomi.

“Teknologinya bisa dilihat, dirawat, dipanen, dan diceritakan kembali,” ujar Yayu.

Keterampilan baru yang ditambahkan di sepanjang proses—memintal, merangkai, memasang, hingga merawat tanaman—membuat ijuk tidak lagi berhenti sebagai bahan mentah.

Green Curtain Jadi Daya Tarik Wisata Edukasi Olele

Kelompok Usaha Wisata O'oLanga mulai diarahkan untuk mengaitkan aktivitas wisata bahari dengan pengalaman di daratan. Wisatawan yang datang menikmati terumbu karang bisa diajak melihat langsung pengolahan ijuk oleh warga.

“Kalau mau bicara tentang alam, science, maka Olele kita jual sebagai salah satu eduwisata,” kata Yayu.

Konsep ini juga membuka ruang belajar bagi siswa dan mahasiswa. Mereka bisa mengenal biota laut, bentang batugamping, hingga aktivitas masyarakat pesisir dalam satu kunjungan.

Program Pendampingan dari Kementerian untuk Keberlanjutan Usaha

Pengembangan green curtain ini merupakan bagian dari program PBW 2026 yang didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Masyarakat juga dibekali pelatihan pencatatan usaha, penghitungan harga pokok produksi, pengelolaan stok, kemasan, label, dan pemasaran digital. Tujuannya agar produk yang dihasilkan tidak berhenti setelah masa pelatihan selesai.

Follow kabargorontalo.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: gorontalo.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks