GORONTALO — Perwakilan alumni IKPH, Ismail Giu, menyebut pimpinan Pesantren Hubulo menyambut baik rencana pertemuan tersebut. Menurutnya, alumni dan pesantren memiliki pemahaman yang sama bahwa dialog bukan sekadar formalitas.
“Alhamdulillah Pimpinan Pesantren Hubulo menyambut baik rencana ini. Alumni dan pesantren punya pemahaman yang sama, bahwa pertemuan nanti bukan sekadar dialog formalitas, tapi ruang menyampaikan permohonan maaf, empati, memberikan penjelasan terbuka, serta membicarakan bentuk tanggungjawab dan langkah penyelesaian yang diperlukan,” kata Ismail, Selasa (3/10/2026).
Alumni Posisikan Diri sebagai Jembatan Kemanusiaan
IKPH menegaskan berada pada ruang netral sebagai jembatan kemanusiaan. Alumni berupaya mempertemukan pihak-pihak yang sedang berduka dengan pengelola pesantren yang menghadapi masalah serius.
Posisi itu, kata Ismail, tidak menghapus hak keluarga korban menempuh jalur hukum. Dialog dan proses hukum dinilai dua hal yang bisa berjalan tanpa saling menghalangi.
“Kami menegaskan bahwa upaya dialog tidak boleh menghalangi hak keluarga, untuk memperoleh keadilan melalui jalur hukum. Bagi kami, menjaga martabat pesantren bukan berarti menutupi kekurangan melainkan berani menghadapi kenyataan, memperbaiki kesalahan dan memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali,” ujar santri angkatan 10 itu.
Ratusan Santri dan Pekerja Ikut Terdampak
Alumni meminta semua pihak menahan diri dan tidak membangun narasi yang memperkeruh suasana. Ismail mengingatkan pesantren perlu dilihat dari perspektif lebih luas, bukan hanya soal jabatan pimpinan pondok.
Pesantren Hubulo menaungi ratusan santri yang sedang menuntut ilmu. Ada pula ratusan orang tua yang menitipkan masa depan anak mereka, serta ratusan pekerja yang menggantungkan nafkah keluarga di lingkungan pesantren.
Rencana dialog ini menyusul peristiwa tenggelamnya seorang santri kelas 7 di Ponpes Hubulo. Alumni menilai penyelesaian yang bermartabat hanya bisa dicapai bila kedua belah pihak berbicara dari hati ke hati.