Pencarian

Kisah 3 Kali Gagal Bayi Tabung: Dokter Akhirnya Temukan Penyebabnya

Jumat, 28 Agustus 2026 • 11:35:31 WIB
Kisah 3 Kali Gagal Bayi Tabung: Dokter Akhirnya Temukan Penyebabnya
Dokter spesialis fertilitas di Bengaluru menemukan penyebab tiga kali kegagalan program bayi tabung pada pasangan asal Gorontalo melalui pemeriksaan menyeluruh.

GORONTALO — Menjalani program bayi tabung (IVF) adalah perjalanan panjang yang menguras fisik dan emosi. Bagi pasangan Ananya (35) dan Aswin (36), perjalanan ini bahkan sempat berujung pada saran untuk menggunakan donor sel telur atau sperma. Namun, keputusan untuk mencari opini kedua justru mengubah segalanya.

Bukan Sekadar Kualitas Embrio

Di klinik sebelumnya, Ananya dan Aswin sudah tiga kali melakukan transfer embrio. Dokter menyebut kualitas embrio mereka baik, tetapi hasilnya selalu negatif. Frustasi, mereka pun berkonsultasi dengan Dr. Rubina Pandit, spesialis fertilitas di Bengaluru.

Pemeriksaan awal menunjukkan kondisi Ananya masih normal. Namun, pemeriksaan sperma Aswin menemukan masalah: nilai DNA fragmentation index (DFI) yang tinggi. Ini berarti ada kerusakan pada DNA sperma yang bisa memengaruhi keberhasilan pembuahan, meski embrio tampak baik secara fisik.

Pemeriksaan Lebih Dalam Menemukan Hydrosalpinx

Pada siklus berikutnya, dokter tetap menggunakan sel telur dan sperma mereka sendiri, tetapi dengan teknik pemilihan sperma yang lebih canggih seperti PICSI dan microfluidics. Hasilnya, empat embrio berkualitas baik berhasil dikembangkan dan semuanya dinyatakan normal setelah menjalani tes genetik PGT-A.

Meski begitu, Dr. Rubina tidak berhenti di situ. Evaluasi lebih lanjut pada rahim dan saluran tuba menemukan adanya cairan di rongga rahim yang tak kunjung hilang. Setelah dilakukan histeroskopi dan laparoskopi, ditemukanlah penyebabnya: hydrosalpinx, yaitu kondisi saluran tuba yang rusak dan berisi cairan. Cairan inilah yang diduga menjadi "racun" bagi embrio yang ditransfer sebelumnya.

Tim medis kemudian memisahkan saluran tuba tersebut agar cairannya tidak lagi mengalir ke rongga rahim. Hasil USG setelah prosedur memastikan cairan sudah tidak terlihat.

Waktu Transfer yang Tepat Ikut Menentukan Keberhasilan

Perjuangan pasangan ini belum usai. Dokter ingin memastikan embrio ditransfer pada waktu yang paling optimal untuk diterima rahim. Mereka menjalani tes endometrial receptivity assay (ERA) untuk mengetahui kapan endometrium paling siap.

Hasilnya mengejutkan: rahim Ananya baru mencapai kondisi reseptif satu hari lebih lambat dari waktu transfer standar. Dengan penyesuaian jadwal transfer berdasarkan tes ERA ini, kehamilan akhirnya berhasil. Ananya kini telah melahirkan bayi yang sehat, dan beberapa embrio beku lainnya disimpan untuk rencana kehamilan berikutnya.

Pelajaran Penting untuk Pasien Bayi Tabung

Kisah ini menunjukkan bahwa kegagalan IVF tidak selalu berarti embrio bermasalah. Ada banyak faktor lain yang bisa menjadi penghambat, seperti:

  • Kualitas sperma, termasuk kerusakan DNA yang tak terlihat dari pemeriksaan standar.
  • Kondisi rahim dan saluran tuba, seperti hydrosalpinx yang bisa mengganggu implantasi.
  • Waktu kesiapan endometrium (dinding rahim) untuk menerima embrio.

Jika Anda atau orang terdekat sedang berjuang dengan program bayi tabung yang belum berhasil, jangan ragu untuk mencari opini kedua dari spesialis fertilitas lain. Pemeriksaan yang lebih menyeluruh bisa menjadi kunci untuk menemukan akar masalah yang selama ini terlewat.

Follow kabargorontalo.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: haibunda.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks