Pencarian

5 Alasan Pengguna OnePlus Perlu Pindah ke Merek Ini Setelah OnePlus Hengkang dari Pasar AS

Senin, 17 Agustus 2026 • 13:49:31 WIB
5 Alasan Pengguna OnePlus Perlu Pindah ke Merek Ini Setelah OnePlus Hengkang dari Pasar AS
Pengunjung mengamati ponsel Nothing Phone (2a) yang dipajang di sebuah gerai ponsel di Gorontalo.

GORONTALO — Kepergian OnePlus dari pasar Amerika Serikat bukan sekadar kabar buruk bagi pangsa pasar, tetapi juga pukulan telak bagi para pengguna setia yang selama ini mengandalkan merek tersebut untuk mendapatkan spesifikasi flagship dengan harga yang lebih masuk akal. Namun, celah yang ditinggalkan OnePlus ternyata tidak lama kosong. Nothing, perusahaan teknologi asal London yang didirikan oleh Carl Pei—co-founder OnePlus—kini tampil sebagai alternatif paling logis.

Portofolio Nothing saat ini mencakup lini Phone (seri utama), Phone (a) series (varian yang lebih terjangkau), hingga perangkat audio dan wearable. Pendekatannya konsisten: menghadirkan desain ikonik, software bersih, dan spesifikasi mumpuni dengan harga yang agresif.

Warisan OnePlus yang Diteruskan Nothing

Carl Pei mendirikan Nothing pada 2020 setelah hengkang dari OnePlus. Visinya hampir identik dengan filosofi awal OnePlus: memangkas biaya pemasaran dan distribusi yang tidak perlu, lalu memfokuskan anggaran pada komponen dan pengalaman pengguna. Hasilnya terlihat jelas pada Nothing Phone (2a), yang menawarkan chip MediaTek Dimensity 7200 Pro, layar AMOLED 120Hz, dan baterai 5.000 mAh dengan harga yang bersaing langsung di segmen menengah.

Bagi pengguna OnePlus yang terbiasa dengan OxygenOS yang ringan, antarmuka Nothing OS menawarkan pengalaman serupa: hampir murni Android, tanpa bloatware, dengan pembaruan sistem yang konsisten. Perusahaan ini berkomitmen memberikan tiga tahun pembaruan OS utama dan empat tahun patch keamanan untuk perangkat unggulannya.

Glyph Interface: Pembeda yang Fungsional

Jika OnePlus dikenal dengan slider alert, Nothing punya Glyph Interface—sekelompok lampu LED di bagian belakang ponsel yang berfungsi lebih dari sekadar hiasan. Lampu ini bisa menampilkan notifikasi visual, indikator pengisian daya, bahkan berfungsi sebagai lampu kilat kamera saat merekam video.

Fitur ini bukan gimmick belaka. Dalam praktiknya, Glyph Interface membantu pengguna mengetahui siapa yang menelepon tanpa harus menyentuh ponsel, atau memastikan baterai sudah penuh hanya dengan melirik posisi lampu. Ini adalah contoh diferensiasi yang dulu sering dilakukan OnePlus di era awal kemunculannya.

Perbandingan Langsung di Segmen yang Sama

Nothing Phone (2) yang dirilis tahun lalu menempati posisi yang dulu diisi OnePlus 11: ponsel flagship dengan Snapdragon 8-series, layar LTPO OLED, dan kamera utama 50 MP dengan sensor Sony IMX890. Harganya saat peluncuran berada di bawah harga flagship Samsung dan Apple, persis seperti strategi OnePlus di masa jayanya.

Sementara itu, Nothing Phone (2a) dan (2a) Plus menyasar segmen yang dulu menjadi wilayah OnePlus Nord. Dengan harga mulai dari kisaran Rp 5 jutaan di pasar global, keduanya menawarkan spesifikasi yang sulit ditandingi kompetitor di kelas yang sama.

Ekosistem yang Mulai Terbentuk

Nothing tidak berhenti pada ponsel. Perusahaan ini juga merilis Nothing Ear (seri earbuds), Nothing Ear (a), hingga Nothing Watch yang dirilis awal tahun ini. Integrasi antar perangkat berjalan mulus melalui aplikasi Nothing X, mirip dengan ekosistem yang coba dibangun OnePlus bersama Oppo dan Realme.

Bagi pengguna yang sudah terlanjur memiliki aksesori OnePlus, perlu dicatat bahwa perangkat Nothing menggunakan standar pengisian daya USB-C dan mendukung Qi wireless charging pada model tertentu, sehingga transisi tidak akan terasa terlalu berat.

Ketersediaan dan Nilai Jual di Indonesia

Meski kabar ini berawal dari pasar Amerika Serikat, dampaknya terasa juga di Indonesia. Nothing resmi masuk pasar Indonesia sejak 2023 dan memiliki distributor resmi yang melayani garansi serta layanan purna jual. Ponsel Nothing juga aktif menerima pembaruan software secara berkala untuk wilayah Asia Tenggara.

Dari sisi nilai jual kembali, Nothing masih kalah dari OnePlus yang sudah lebih dulu dikenal. Namun, dengan basis penggemar yang tumbuh cepat dan komunitas yang aktif, tren ini berpotensi berubah dalam beberapa tahun ke depan.

Kesimpulannya, Nothing bukan sekadar pengganti OnePlus—ia adalah evolusi dari filosofi yang sama dengan eksekusi yang lebih segar. Pengguna yang menghargai software bersih, desain berani, dan harga wajar akan merasa seperti pulang ke rumah.

Follow kabargorontalo.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: bgr.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks