GORONTALO — iFixit membongkar iPhone Duo dan memberi skor keterbaikan 5 dari 10, tertinggi yang pernah diberikan untuk smartphone lipat. Dari pengujian debu dan pemindaian CT, tim menemukan sejumlah dugaan penyebab layar dalam perangkat rusak lebih cepat, mulai dari engsel hingga pola piksel. Temuan ini penting bagi calon pembeli foldable pertama Apple di pasar Indonesia.
Proses bongkar pasang yang dipublikasikan iFixit menyoroti mekanisme engsel iPhone Duo sebagai bagian paling rumit dari perangkat lipat pertama Apple. Tim penguji memulai dengan uji debu fluoresen untuk melacak jalur masuk partikel saat perangkat dibongkar, lalu memetakan geometri engsel lewat pemindaian CT dan footage teardown.
Skor Keterbaikan Tertinggi untuk Ponsel Lipat
iPhone Duo meraih nilai 5 dari 10 dalam skala keterbaikan iFixit. Angka itu disebut sebagai skor tertinggi yang pernah diberikan iFixit untuk sebuah smartphone lipat.
Nilai tersebut masih bersifat sementara, menunggu ketersediaan suku cadang pengganti di pasaran. Meski begitu, hasil ini menjadi sinyal positif bagi perangkat lipat yang selama ini dikenal sulit diperbaiki.
Engsel Rumit dan Uji Debu
iPhone Duo mengantongi rating IP68, artinya tahan debu dan mampu bertahan terendam air hingga kedalaman 6 meter selama 30 menit. Dalam uji debu, engsel sempat mengeluarkan bunyi berderak setelah pengujian.
Setelah dibongkar, jumlah debu yang masuk ke engsel ternyata relatif sedikit dibandingkan ponsel lipat lain yang pernah diuji iFixit. Engselnya sendiri menggabungkan gear, pegas, dan sambungan logam yang saling terhubung, dengan desain waterdrop agar layar bisa melengkung tanpa terlipat terlalu tajam.
Apple menambahkan panduan melengkung untuk mengatur gerak sambungan, tujuannya mengurangi tekanan pada layar saat perangkat dibuka dan ditutup.
Dugaan Penyebab Layar Rusak Dini
Sejumlah pemilik iPhone Duo melaporkan layar dalam rusak lebih awal, banyak di antaranya mendengar bunyi krek saat melipat atau membuka perangkat, lalu muncul garis terang melintasi layar. Keluhan itu cenderung terkonsentrasi di area yang sama, dekat pertemuan antara celah kabel penghubung dua sisi perangkat dan penopang engsel di tengah.
iFixit menduga ada dua kemungkinan. Pertama, batang penopang tengah tidak menarik kembali dengan benar saat perangkat menutup sehingga menekan layar secara berlebihan. Kedua, rel melengkung yang memandu gerak engsel naik melewati komponen sekitarnya saat terlipat dan berpotensi mengganggu layar bila tidak bergerak sesuai rancangan.
Beberapa tepi struktural dan komponen juga bertemu di area yang sama, berpotensi memusatkan tekanan pada lapisan layar yang rentan. iFixit belum menetapkan penyebab pasti, tetapi kemiripan antara pola kerusakan dan geometri internal engsel memberi petunjuk awal untuk penyelidikan lanjutan.
Layar Nano-Texture dan Pola Piksel
iPhone Duo memakai layar matte nano-texture yang menurut Apple membantu menyamarkan lipatan dengan menyebarkan cahaya pantulan. Di bawah mikroskop, permukaannya dipenuhi tonjolan kecil membulat yang membaurkan refleksi sehingga lipatan lebih samar.
Pemeriksaan piksel mengungkap sebagian subpiksel berbentuk oval dan menghadap ke arah berbeda, tidak mengikuti pola seragam. Sebuah paten Apple disebut mengisyaratkan susunan itu membantu menekan artefak difraksi, yang pada akhirnya membuat lipatan makin tidak terlihat.
Di area atas kamera selfie layar dalam, pola piksel dimodifikasi dengan celah lebih lebar agar cahaya bisa mencapai kamera di bawahnya, mirip pendekatan kamera inframerah under-display pada iPhone 18 Pro. Piksel di area ini juga lebih membulat dan tersusun lebih teratur.
Bezel di sekeliling layar dalam bisa dilepas tanpa merusaknya karena Apple memakai klip, tidak sepenuhnya mengandalkan perekat.
Bagi konsumen Indonesia yang menanti kehadiran foldable Apple, temuan iFixit memberi gambaran dua sisi: rancangan yang lebih mudah dibongkar, tetapi dengan titik lemah struktural yang masih perlu dipantau pada unit produksi massal.