KABUPATEN GORONTALO — Geliat ekonomi terasa nyata di Kelurahan Kayubulan, Kecamatan Limboto, sejak ribuan pekerja mulai membanjiri lokasi persiapan PENAS Petani dan Nelayan. Abd. Rahman Baderan, pemilik depot air isi ulang R.O Syabil yang berjarak hanya 300 meter dari GOR David – Tonny, mengaku kewalahan melayani pesanan.
“Sudah beberapa hari ini kios saya banyak didatangi pelanggan air isi ulang. Mereka bilang bekerja mempersiapkan lokasi acara sekitar 50 orang. Hampir setiap hari mengisi empat galon di sini,” kata Rahman, Minggu (14/6/2026).
Air Heksagonal Lebih Laku dari Air RO Biasa
Uniknya, para pekerja yang mempersiapkan acara berskala nasional itu tak asal memesan. Mereka meminta jenis air minum tertentu yang harganya lebih mahal. “Mereka enggak mau ngisi air R.O maunya heksagonal. Harganya Rp8.000 per galon dibanding air R.O hanya Rp5.000,” sambungnya bersemangat.
Tak hanya dari penjualan air, Rahman juga meraup untung dari kos-kosan miliknya. Ia menyebut ada sekitar 30 pekerja asal Pulau Jawa yang menginap di kamar kos di depan rumahnya. “Itu di depan juga pak ada kos Sahrul, sekitar 30 orang yang ngekos. Mereka dari Jawa bekerja di lokasi PENAS,” bebernya.
Nasi Kunung Ludes Sebelum Jam 8 Pagi
Keberuntungan serupa dirasakan Sil Ibrahim, pedagang nasi kuning yang mangkal di depan gerbang masuk GOR David-Tonny. Perempuan yang akrab disapa Ma Ino itu mengaku omzetnya naik drastis dalam sepekan terakhir. “Saya jualan dari jam 7 pak, biasa jual 20 bungkus lama habisnya. Sekarang jual 30 bungkus sebelum jam 8 sudah habis,” katanya.
Peningkatan permintaan ini terjadi karena puluhan hingga ratusan pekerja proyek dan persiapan acara membutuhkan sarapan pagi sebelum memulai aktivitas di lokasi PENAS. Ma Ino mengaku tak perlu lagi menunggu hingga siang untuk menghabiskan dagangannya.
Ribuan Rumah Warga Disiapkan Jadi Homestay Peserta
Berkah ekonomi dari gelaran PENAS diprediksi akan terus mengalir hingga acara usai. Panitia mencatat sebanyak 1.037 rumah warga di 11 desa dan kelurahan di Kecamatan Limboto dan Telaga Biru telah disiapkan menjadi tempat tinggal bagi ribuan peserta dari seluruh Indonesia.
Dengan skema homestay ini, warga tidak hanya diuntungkan dari sewa kamar, tetapi juga dari konsumsi harian para peserta yang diperkirakan akan membelanjakan uang di warung-warung dan pasar lokal selama acara berlangsung. Perputaran ekonomi di wilayah ini diprediksi mencapai puluhan miliar rupiah dalam sepekan ke depan.