GORONTALO — Lionel Messi bukan lagi pemain yang sama yang membuat Fabio Capello terkesiap saat Joan Gamper Trophy 2005. Jika dulu ia adalah winger kanan yang mengiris dari sayap, kini ia adalah otak serangan yang mengatur ritme dari lini tengah. Transformasi ini bukan sekadar adaptasi fisik, melainkan evolusi peran yang terjadi setidaknya lima kali sepanjang kariernya.
Dari Sayap ke 'False Nine': Gebrakan Guardiola yang Mengubah Segalanya
Perubahan paling fundamental terjadi pada 2 Mei 2009. Pep Guardiola, yang saat itu baru setahun menangani Barcelona, memindahkan Messi dari posisi sayap kanan ke ujung tombak tanpa tugas sebagai striker tradisional. Samuel Eto'o digeser ke kanan, Thierry Henry ke kiri, dan Messi diberi instruksi: turun, terima bola, dan putuskan.
Hasilnya, Real Madrid dihajar 6-2 di Santiago Bernabeu. Lahirlah false nine versi modern. "Saya tidak terlalu memperhatikan taktik sebelumnya," kata Messi kepada jurnalis Juan Pablo Varsky pada 2024. "Tapi bersama Guardiola saya belajar banyak. Saya mulai memahami ruang, penguasaan bola, dan bagaimana permainan benar-benar bekerja."
Menjadi 'Enganche': Beban Tim di Pundak Seorang Maestro
Ketika Xavi hengkang pada 2015 dan Iniesta tiga tahun kemudian, sesuatu berubah. Messi yang tadinya hanya menjadi eksekutor akhir, kini harus menjadi pengatur serangan sekaligus pencetak gol. Ia berevolusi menjadi 'enganche'—pemain yang turun lebih dalam, menjadi penginisiasi sekaligus penyelesai peluang.
Data statistik menunjukkan pergeseran ini. Pada musim 2019-20, ia mencatatkan 22 assist dan 25 gol dalam 33 pertandingan La Liga. Assist mulai menyaingi jumlah golnya. Di musim terakhirnya bersama Barcelona (2020-21), ia kembali ke performa terbaiknya dengan 30 gol dan 11 assist dari 35 laga.
Mengapa Guardiola Memindahkannya dari Sayap?
Keputusan Guardiola memindahkan Messi dari sayap awalnya didasari alasan defensif. Messi tidak mau mundur membantu bek kanan. Namun, pelatih asal Catalonia itu tahu bahwa Messi pada akhirnya akan selalu berakhir di pusat operasi. Tim pun dibangun di sekitar posisi barunya itu—untuk panggung terbesar dan momen terbesar.
Ronaldinho, yang melihat Messi berlatih untuk pertama kalinya, pernah berkata: "Dia akan menjadi yang terbaik." Dua dekade kemudian, Messi membuktikannya bukan hanya dengan delapan Ballon d'Or, tetapi dengan kemampuannya untuk terus mendominasi meski usia dan fisik tak lagi sama.