TOKYO — Pengakuan resmi dari Pemerintah Jepang ini tertuang dalam laporan tahunan yang disetujui Kabinet Perdana Menteri Sanae Takaichi pada Jumat lalu. Dokumen tersebut menguraikan bahwa krisis beras dipicu oleh kombinasi faktor pasokan dan permintaan yang tidak terantisipasi.
Menurut laporan pemerintah, kekurangan beras mulai terasa sekitar musim panas 2024. Gagal panen akibat suhu tinggi, peningkatan konsumsi oleh wisatawan mancanegara, serta aksi penimbunan oleh sebagian warga yang bersiap menghadapi potensi gempa besar di Palung Nankai menjadi pemicu utamanya.
Mengapa Pemerintah Jepang Terlambat Bertindak?
Pemerintah mengakui bahwa mereka terlalu percaya diri pada asumsi bahwa produksi beras dalam negeri masih mencukupi. Akibatnya, langkah pengumpulan informasi mengenai kondisi distribusi di lapangan tidak berjalan proaktif.
"Berdasarkan asumsi bahwa produksi beras mencukupi, pemerintah tidak proaktif dalam mengumpulkan informasi mengenai kondisi distribusi, yang pada akhirnya memicu lonjakan harga," demikian bunyi laporan resmi tersebut. Keputusan untuk melepas cadangan beras darurat pun diambil terlambat, sehingga gagal meredakan kekhawatiran di kalangan pedagang grosir.
Impor Beras Melonjak 95 Kali Lipat
Dampak dari krisis ini sangat nyata. Impor beras oleh sektor swasta pada tahun 2025 melonjak drastis hingga 95 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai 96.834 ton. Lonjakan impor ini memicu peringatan dari pemerintah bahwa produksi beras domestik dapat terdampak.
Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang sebelumnya memperkirakan permintaan beras akan menurun seiring berkurangnya jumlah penduduk. Namun, perkiraan itu meleset total karena lonjakan wisatawan asing justru meningkatkan konsumsi. Peringatan dini potensi gempa besar pada musim panas 2024 juga mendorong masyarakat untuk menimbun beras dalam jumlah besar.
Apa Dampak Krisis Beras bagi Rumah Tangga Jepang?
Pada puncak krisis, harga beras melampaui 4.000 yen per 5 kilogram. Pedagang grosir melaporkan bahwa kondisi ini memaksa rumah tangga di Jepang untuk mengubah pola konsumsi mereka, beralih dari nasi ke mi dan roti sebagai makanan pokok alternatif.
Survei industri secara terpisah mencatat bahwa pada tahun fiskal 2025, konsumsi beras per orang turun 6,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi rata-rata 4.435 gram per bulan. Angka ini merupakan level terendah dalam tujuh tahun terakhir.
Di Tengah Krisis, Ekspor Produk Pertanian Jepang Justru Meningkat
Di sisi lain, laporan tersebut juga mencatat meningkatnya minat luar negeri terhadap produk pertanian Jepang, termasuk beras, daging sapi, dan teh hijau. Ekspor produk pangan Jepang tercatat naik 12,8 persen menjadi 1,70 triliun yen atau sekitar Rp189 triliun pada tahun 2025.