Pencarian

Impor Bahan Baku Obat RI Tembus 95 Persen, Kimia Farma Genjot Produksi Lokal

Sabtu, 27 Juni 2026 • 19:27:31 WIB
Impor Bahan Baku Obat RI Tembus 95 Persen, Kimia Farma Genjot Produksi Lokal
Kimia Farma tingkatkan produksi lokal untuk kurangi ketergantungan impor bahan baku obat.

GORONTALO — Direktur Produksi dan Supply Chain Kimia Farma, Hadi Kardoko, mengungkapkan bahwa ketergantungan impor yang sangat tinggi menempatkan ketahanan kesehatan Indonesia dalam posisi rentan. "Gejolak geopolitik seperti konflik di kawasan Iran dan Timur Tengah terbukti memberikan dampak domino yang nyata, mulai dari disrupsi rantai pasok global, lonjakan biaya logistik dan energi, hingga ancaman kelangkaan bahan baku serta produk jadi di pasar domestik," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (26/6/2026).

Fasilitas Produksi di Cikarang Jadi Andalan

Salah satu upaya konkret Kimia Farma adalah mengoptimalkan kapasitas PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP) di Cikarang. Fasilitas ini telah mengantongi Nomor Izin Edar (NIE) untuk sejumlah bahan baku obat. Saat ini, KFSP sudah memproduksi bahan baku untuk berbagai kelompok terapi, seperti obat kardiovaskular, antibiotik, hingga antiretroviral untuk HIV.

Dari total produksi, sebanyak 19 bahan baku obat telah mengantongi sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Dari jumlah tersebut, 18 di antaranya juga telah memperoleh sertifikat halal.

Dukungan Pemerintah dan Kebijakan TKDN

Hadi menilai pengembangan industri bahan baku obat nasional tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan dukungan dari Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), hingga Kementerian Perindustrian. Kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan larangan impor untuk produk yang sudah bisa diproduksi di dalam negeri dinilai mampu mendorong pertumbuhan industri lokal.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza yang meninjau fasilitas produksi Kimia Farma di Plant Banjaran menyatakan optimismenya. "Melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan industri, kita optimistis dapat mewujudkan industri farmasi Indonesia yang semakin mandiri, berdaya saing global, dan berkelanjutan," kata Faisol. Pemerintah berencana terus memberikan insentif dan menyempurnakan regulasi untuk memperkuat industri hulu farmasi.

Produk Baru dan Strategi Efisiensi

Sepanjang 2025, Kimia Farma meluncurkan empat produk baru: Fentakaf/Fentanyl Injeksi untuk anestesi, Sildenafil, Pantokaf/Pantoprazole untuk gangguan pencernaan, dan Moxifloxacin untuk penanganan tuberkulosis. Direktur Utama Kimia Farma, Djagad Prakasa Dwialam, mengatakan perusahaan juga menjalankan strategi change of source untuk mengurangi ketergantungan pada impor.

Hasilnya mulai terlihat. Kimia Farma mencatat pertumbuhan penjualan bahan baku obat domestik dan ekspor sebesar 124 persen pada 2025. Perusahaan juga mengembangkan produk dengan TKDN tinggi, seperti obat antiretroviral TLE untuk HIV dengan TKDN 52,78 persen dan Rosuvastatin untuk terapi kardiovaskular dengan TKDN 59 persen.

"Kami fokus pada pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan. Penguasaan lini hulu, peluncuran produk inovatif, serta capaian TKDN hingga 59 persen adalah fondasi utama Kimia Farma saat ini," ujar Djagad.

Bagikan
Sumber: finance.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks