Gorontalo bukan cuma soal pantai dan panorama alam. Di balik julukan “Serambi Madinah”, provinsi ini punya lanskap kuliner yang tak kalah memikat. Sebagai perantau yang sempat tinggal beberapa tahun di sana, saya menemukan bahwa lidah orang Gorontalo punya keberanian dalam meracik bumbu—asam, pedas, dan gurih berpadu dalam harmoni yang sulit dilupakan. Wisatawan yang datang pun umumnya mencari pengalaman rasa otentik, bukan sekadar makanan instagramable.
Artikel ini akan mengupas tujuh kuliner khas yang paling sering diburu, dari makanan berat hingga camilan ringan. Saya juga akan menyertakan tips praktis berdasarkan pengalaman—bukan dari daftar harga atau jam buka yang bisa berubah sewaktu-waktu. Jadi, langsung saja kita mulai.
1. Binte Biluhuta: Sup Jagung yang Lebih dari Sekadar Hangat
Binte biluhuta adalah ikon kuliner Gorontalo yang paling mudah ditemukan. Di sepanjang Jalan Nani Wartabone atau di sekitar Pasar Sentral, warung-warung kecil menyajikan sup jagung ini dalam mangkuk keramik. Kuahnya bening dengan potongan jagung manis, udang kecil, dan kemangi yang diiris kasar.
Yang membedakan binte biluhuta dari sup jagung daerah lain adalah sensasi pedas dari cabai rawit utuh yang mengapung di permukaan. Saya biasanya menambahkan perasan jeruk nipis dan taburan kacang goreng—kombinasi yang bikin lidah menari. Kalau Anda pencinta rasa asam-pedas, hidangan ini wajib masuk daftar.
2. Sate Tuna: Bukan Sate Ayam Biasa
Gorontalo terkenal dengan hasil lautnya, dan tuna menjadi primadona. Sate tuna di sini berbeda dari sate pada umumnya: dagingnya dipotong dadu besar, dibumbui dengan kecap manis dan bawang putih, lalu dibakar di atas bara. Teksturnya padat tapi tidak alot, dengan aroma bakar yang kuat.
Warung sate tuna di sekitar pelabuhan atau kawasan Kota Selatan sering ramai menjelang malam. Saya sarankan memesan setengah porsi dulu—porsinya cukup besar untuk satu orang. Sajian ini biasanya ditemani sambal kecap pedas dan lontong hangat.
3. Ilabulo: Aroma Daun Pisang yang Menggoda
Ilabulo adalah panganan tradisional yang terbuat dari campuran ikan cakalang, parutan kelapa, dan sagu. Adonan ini dibungkus daun pisang dan dikukus hingga matang. Saat dibuka, aromanya langsung menguar—campuran gurih ikan dan wangi daun pisang yang khas.
Saya pertama kali mencoba ilabulo di acara pernikahan adat Gorontalo. Rasanya sederhana tapi nagih, cocok sebagai camilan sore atau lauk pendamping nasi. Beberapa pedagang di Pasar Tradisional Gorontalo menjualnya dalam kemasan kecil, siap santap.
4. Milu Siram: Sarapan Favorit Anak Kost dan Warga Lokal
Milu siram adalah jagung rebus yang disiram kuah santan pedas. Mirip binte biluhuta, tapi versi ini lebih kental dan biasanya dimakan sebagai sarapan. Penjualnya mudah ditemukan di pinggir jalan utama, terutama di pagi hari.
Yang menarik, milu siram sering dijual dengan topping telur rebus atau suwiran ayam. Saya biasa memesan tanpa telur—kuah santannya sudah cukup mengenyangkan. Harganya ramah di kantong, dan porsinya pas untuk memulai hari.
5. Woku Belanga: Ikan dalam Balutan Bumbu Kuning
Woku adalah teknik memasak khas Gorontalo yang menggunakan bumbu kuning berbasis kunyit, lengkuas, dan daun jeruk. Woku belanga merujuk pada ikan (biasanya tuna atau cakalang) yang dimasak dalam wajan tanah liat—belanga. Proses memasak lambat membuat bumbu meresap sempurna.
Saya pernah diajak teman lokal ke rumah makan di kawasan Botu Barani. Woku belanga di sana disajikan dengan nasi hangat dan lalapan mentah. Rasa gurih bumbu kuning berpadu dengan asam segar dari belimbing wuluh—kombinasi yang bikin nambah terus.
6. Gohu Ikan: Ceviche ala Gorontalo
Gohu ikan adalah hidangan ikan mentah yang direndam dalam air jeruk nipis dan bumbu. Ikan yang digunakan biasanya cakalang atau tuna segar, dipotong dadu kecil, lalu dicampur dengan irisan bawang merah, cabai, dan kemangi. Proses perendaman singkat—sekitar 10-15 menit—sudah cukup untuk “memasak” ikan secara kimiawi.
Teksturnya lembut dengan rasa asam yang dominan. Gohu ikan sering dijadikan lauk pendamping nasi hangat atau dimakan langsung sebagai camilan. Saya merekomendasikan mencobanya di warung yang ramai pengunjung—tanda kesegaran ikan terjamin.
7. Kue Biji Pisang: Camilan Renyah yang Bikin Ketagihan
Kue biji pisang adalah camilan khas Gorontalo yang terbuat dari pisang kepok yang diiris tipis, dicampur adonan tepung beras dan kelapa parut, lalu digoreng hingga renyah. Bentuknya kecil-kecil seperti biji, makanya dinamai begitu. Rasanya manis gurih, cocok untuk teman minum kopi.
Di Pasar Sentral Gorontalo, kue biji pisang dijual dalam toples besar. Saya biasanya membeli setengah kilogram untuk oleh-oleh. Camilan ini tahan lama—bisa bertahan seminggu dalam wadah kedap udara—jadi cocok untuk dibawa pulang.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa kuliner Gorontalo yang paling terkenal di kalangan wisatawan?
Binte biluhuta dan sate tuna menjadi dua hidangan yang paling sering dicari. Keduanya mudah ditemukan di pusat kota dan memiliki rasa yang khas.
Apakah kuliner Gorontalo halal?
Mayoritas penduduk Gorontalo adalah Muslim, sehingga sebagian besar kuliner tradisional menggunakan bahan halal. Namun, pastikan menanyakan langsung ke penjual jika Anda memiliki kekhawatiran khusus.
Di mana tempat terbaik mencoba kuliner Gorontalo?
Pasar Sentral Gorontalo dan kawasan Jalan Nani Wartabone menjadi lokasi paling strategis. Di sana, Anda bisa menemukan berbagai hidangan dalam satu tempat.
Berapa kisaran harga kuliner Gorontalo?
Harga bervariasi tergantung tempat dan porsi. Sebaiknya cek langsung ke warung atau restoran untuk informasi terkini.
Apa oleh-oleh khas Gorontalo yang bisa dibawa pulang?
Kue biji pisang dan ilabulo kemasan menjadi pilihan populer. Keduanya mudah ditemukan di pasar tradisional atau toko oleh-oleh.
Gorontalo punya cerita rasa yang layak dijelajahi lebih dalam. Setiap hidangan menyimpan jejak sejarah dan kearifan lokal yang jarang ditemukan di daerah lain. Selamat mencoba.