SANGATTA — Program beasiswa ini tidak hanya mencakup biaya pendidikan penuh, tetapi juga pelatihan bahasa dan budaya selama satu tahun sebelum keberangkatan. Peserta akan menempuh studi di sejumlah politeknik dan universitas mitra di China yang memiliki kurikulum spesifik di bidang pengolahan sumber daya alam. Pemkab Kutim menggandeng konsorsium perguruan tinggi dari provinsi Guangxi dan Zhejiang untuk merealisasikan program ini.
Target Peserta: Lulusan SMA/SMK Sederajat dari 18 Kecamatan
Pendaftaran dibuka untuk lulusan SMA/SMK sederajat dari seluruh kecamatan di Kutim. Prioritas diberikan kepada siswa dari keluarga kurang mampu dan mereka yang memiliki nilai akademik tinggi di bidang sains dan matematika. Pemkab menargetkan kuota awal sebanyak 30 orang pada 2026, dan akan dievaluasi setiap tahun.
Fokus Studi: Metalurgi, Kimia Terapan, hingga Teknik Mesin
Bidang studi yang ditawarkan meliputi metalurgi, kimia terapan, teknik mesin, dan manajemen industri pengolahan. Seluruh program dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara kurikulum sekolah menengah dan kebutuhan industri hilir di Kalimantan Timur. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim, Antonius L. Sinaga, menyebut lulusan program ini akan langsung diserap oleh perusahaan mitra di kawasan industri.
"Kami tidak ingin SDM lokal hanya menjadi penonton di daerah sendiri. Beasiswa ini adalah investasi jangka panjang untuk memutus rantai ketergantungan pada tenaga kerja dari luar," ujar Antonius dalam sosialisasi program di Sangatta, pekan lalu.
Fakta Singkat Beasiswa Indonesia–China 2026
- Pendaftaran dibuka mulai Januari 2026 melalui portal resmi Pemkab Kutim.
- Biaya hidup, asuransi kesehatan, dan tiket pulang-pergi ditanggung penuh oleh APBD Kutim.
- Mitra pendidikan meliputi Guangxi Vocational College dan Zhejiang Polytechnic Institute.
- Setelah lulus, peserta wajib kembali ke Kutim dan bekerja di sektor hilirisasi minimal lima tahun.
Dampak bagi Warga: Peluang Kerja Tanpa Harus Merantau ke Pulau Jawa
Program ini menjadi angin segar bagi warga di pedalaman seperti Kecamatan Bengalon dan Muara Wahau yang selama ini minim akses pendidikan tinggi. Dengan beasiswa penuh, siswa dari keluarga petani dan nelayan bisa mengenyam pendidikan di luar negeri tanpa biaya. Pemkab juga menyediakan pendampingan administrasi dan visa secara gratis.
Antonius menambahkan, skema ini merupakan bagian dari rencana induk pengembangan SDM Kutim 2025–2030. Pemerintah daerah menargetkan 200 tenaga ahli di bidang hilirisasi pada akhir periode tersebut. "Kami tidak mau kalah dengan daerah lain yang sudah lebih dulu mengirim mahasiswanya ke luar negeri," pungkasnya.