BOALEMO — Lahan kosong di lingkungan Lapas Kelas IIB Boalemo kini berubah menjadi hamparan hijau yang produktif. Lahan itu disulap menjadi kebun semangka yang panennya laris manis di pasaran. Kepala Lapas Boalemo, Agus Risdianto, mengungkapkan antusiasme masyarakat terhadap hasil panen warga binaan terus meningkat.
“Alhamdulillah, antusiasme luar biasa. Banyak sekali pesanan yang datang dari luar untuk hasil kebun yang dikelola oleh warga binaan, terutama buah semangka ini,” kata Agus.
Program pertanian ini awalnya digagas untuk memenuhi kebutuhan pangan di dalam lapas. Namun, kualitas hasil panen yang baik membuat warga di luar lapas tertarik untuk membeli. Selain semangka, Lapas Boalemo juga mengembangkan komoditas hortikultura lain seperti cabai, tomat, terung, dan aneka kacang-kacangan. Tak hanya itu, mereka mulai membudidayakan padi gogo yang dinilai cocok dengan karakteristik lahan kering di wilayah Boalemo.
Di balik keberhasilan tersebut, para warga binaan dan petugas lapas mengakui adanya tantangan, terutama keterbatasan pasokan air. Namun, kondisi itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus mengoptimalkan setiap lahan yang tersedia. Hasil pertanian kini juga telah dipasarkan melalui kerja sama dengan SPPG untuk memenuhi kebutuhan sejumlah komoditas, terutama terung dan berbagai jenis sayuran.
Kepala Sub Seksi Kegiatan Kerja Kelas IIB Boalemo, Ronald Baderan, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar soal panen. “Pengelolaan lahan pertanian ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan di dalam lapas. Goal utamanya adalah membekali warga binaan dengan keterampilan kerja (skill) yang nyata,” ujar Ronald.
Menurutnya, keterampilan bertani yang diperoleh selama masa pembinaan diharapkan menjadi bekal berharga saat warga binaan kembali ke tengah masyarakat. “Kami ingin saat mereka bebas nanti, mereka punya keahlian yang berguna untuk memulai hidup baru di masyarakat,” tambahnya.
Melalui program pembinaan berbasis pertanian ini, Lapas Kelas IIB Boalemo berupaya menghadirkan pembinaan yang produktif. Warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga memiliki bekal keterampilan dan peluang konkret untuk membangun kehidupan yang lebih baik setelah bebas.