GORONTALO — Gelaran akbar petani dan nelayan se-Indonesia yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat ini telah memicu lonjakan permintaan akomodasi yang signifikan. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Gorontalo mengonfirmasi bahwa puluhan hotel telah mencapai okupansi penuh, dengan sebagian besar kamar dipesan oleh kontingen dari luar provinsi.
Puluhan Hotel Penuh, Kamar Standar Paling Diburu
Berdasarkan data PHRI Gorontalo, dari total 27 hotel yang terdaftar sebagai anggota, 23 di antaranya sudah tidak memiliki kamar kosong. Hotel-hotel yang tersebar di Kecamatan Kota Selatan, Kota Utara, dan Kecamatan Limboto ini kebanyakan dipesan untuk tipe kamar standar dan deluxe dengan rentang harga Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu per malam.
“Sejak awal pekan lalu, reservasi sudah membludak. Tamu dominan dari Jawa, Sumatera, dan Sulawesi Selatan. Kami sampai kewalahan mengatur alokasi kamar untuk rombongan besar,” ujar salah satu pengelola hotel di Jalan Sultan Botutihe, Kota Gorontalo, kepada wartawan, Selasa (11/6).
Tarif Kamar Melonjak, PHRI Pastikan Tak Ada Praktik Culas
Kenaikan permintaan diikuti penyesuaian tarif rata-rata sebesar 15 hingga 20 persen dari harga normal. Meski begitu, PHRI menjamin tidak ada praktik kenaikan harga di luar batas wajar atau pembatalan sepihak demi menaikkan tarif di menit-menit akhir.
“Kami sudah berkoordinasi dengan panitia daerah dan Dinas Pariwisata untuk menjaga stabilitas harga. Tidak ada lonjakan ekstrem, semua sesuai tarif atas yang sudah dilaporkan ke pemerintah,” kata Sekretaris PHRI Gorontalo, Risman Pakaya.
Panitia Siapkan 500 Homestay dan 2 Kampung Wisata
Untuk mengantisipasi lonjakan pengunjung yang belum mendapatkan hotel, panitia daerah bersama Pemerintah Provinsi Gorontalo menyiapkan skema akomodasi alternatif. Sebanyak 500 unit homestay milik warga di sekitar lokasi utama PENAS, yakni di Kecamatan Telaga dan Kecamatan Tilongkabila, telah didata dan siap dihuni.
Selain itu, dua kampung wisata di Kabupaten Gorontalo akan difungsikan sebagai tempat menginap dengan konsep budaya lokal. Setiap homestay dikenakan tarif sukarela dengan minimal Rp 100 ribu per malam, sudah termasuk sarapan pagi khas Gorontalo seperti milu siram dan ilabulo.
PENAS XVI: Momentum Bangkitkan Ekonomi Petani-Nelayan
PENAS Petani Nelayan XVI mengusung tema “Petani dan Nelayan Maju, Indonesia Berdaulat Pangan”. Acara ini akan diisi dengan pameran alat dan mesin pertanian, temu usaha, serta gelar teknologi tepat guna. Ribuan peserta dari 38 provinsi dipastikan hadir, termasuk perwakilan kelompok tani, penyuluh, dan pelaku usaha agromaritim.
Pemerintah daerah berharap gelaran ini tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga mendorong peningkatan investasi di sektor pertanian dan perikanan Gorontalo yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi lokal.