Pencarian

Kereta Cepat Whoosh: Utang Konsorsium BUMN Tembus Rp21,54 Triliun, KAI dan WIKA Terpukul — Danantara Siapkan Skema Take Over

Minggu, 02 Agustus 2026 • 14:22:31 WIB
Kereta Cepat Whoosh: Utang Konsorsium BUMN Tembus Rp21,54 Triliun, KAI dan WIKA Terpukul — Danantara Siapkan Skema Take Over
Kereta cepat Whoosh melaju saat uji coba di jalur Jakarta–Bandung.
ini menggerus kinerja keuangan PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) sebagai pemegang saham utama. Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara tengah menyiapkan skema penyelamatan, termasuk opsi pengambilalihan aset prasarana yang berpotensi membebani APBN. ISI:

GORONTALO — Rugi bersih konsorsium BUMN yang menaungi proyek kereta cepat Whoosh mencapai Rp5,13 triliun hanya dalam enam bulan pertama 2026. Angka ini bahkan melampaui total kerugian sepanjang tahun 2025 yang tercatat Rp4,99 triliun. Tekanan finansial pada proyek strategis nasional itu kian dalam.

KAI Tergerus Rp3 Triliun, Laba Anjlok 73,9 Persen

PT Kereta Api Indonesia (Persero) menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Sebagai pemegang saham mayoritas PSBI dengan porsi 58,53 persen, KAI menanggung rugi bersih dari proyek Whoosh senilai Rp3 triliun pada semester I 2026.

Akibatnya, pendapatan KAI memang masih tumbuh 6,6 persen menjadi Rp17,95 triliun. Namun laba bersih perseroan tergerus tajam hingga 73,9 persen, tersisa hanya Rp305,3 miliar. Penurunan drastis ini menjadi sinyal bahaya bagi kesehatan finansial operator kereta api pelat merah tersebut.

Beban serupa dirasakan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Chief Operating Officer BPI Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria, mengakui kondisi ini di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (31/7/2026).

"WIKA terbebani, mereka punya saham di KCIC. Ada tagihan dia yang juga belum di-seattle. Ya tentu orang-orang juga tahu. Ini menjadi beban buat mereka," kata Dony.

Danantara Akui Warisan Masalah, Siapkan Skema Take Over

Dony menegaskan bahwa tekanan keuangan yang dialami para pemegang saham PSBI—konsorsium yang menguasai 60 persen saham PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC)—merupakan masalah bawaan yang harus diurai secara bertahap. Ia meminta publik bersabar karena penanganannya membutuhkan waktu dan energi yang tidak sedikit.

"Kalau ditanya sama saya dulu kenapa begitu, ya tentu teman-teman silahkan cari tahu. Tetapi saya hanya membetulkan bahwa memang terbebani," ujar Dony.

Pemerintah melalui Danantara tengah merumuskan solusi konkret untuk memulihkan struktur keuangan konsorsium. Salah satu opsi yang mengemuka adalah pengambilalihan atau take over aset prasarana KCIC oleh pemerintah, yang kemudian berpotensi dihibahkan kembali.

"Insya Allah kemungkinan akan dilakukan dengan pola demikian, akan dihibahkan. Nah karena itu, maksud saya itu satu-satu. Satu-satu kita bereskan. Mohon kesabarannya," beber Dony.

Target Rampung dalam Hitungan Minggu

Dony mengungkapkan bahwa selain kereta cepat, Danantara juga sedang merapikan persoalan keuangan BUMN lain seperti PT Pos Indonesia (Persero) dan PT Adhi Commuter Properti Tbk. Semua ini, menurutnya, adalah pekerjaan rumah peninggalan masa lalu yang harus dibereskan secara berurutan.

Follow kabargorontalo.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: afu.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks