GORONTALO — Pemerintah tidak main-main dalam urusan swasembada kedelai. Mentan Andi Amran Sulaiman memasang target produktivitas minimal 5 ton per hektare, angka yang jauh di atas rata-rata nasional saat ini yang masih berkisar 1,5 ton per hektare.
Untuk mencapai lompatan produksi itu, Kementerian Pertanian menggandeng BRIN. Kerja sama ini difokuskan pada riset varietas unggul baru yang adaptif terhadap perubahan iklim dan tahan hama.
Riset Varietas Unggul Jadi Kunci
Amran menekankan bahwa teknologi menjadi faktor penentu. "Kami akan dorong riset untuk menghasilkan benih kedelai dengan potensi hasil tinggi. Target 5 ton per hektare bukan sekadar wacana, ini bisa dicapai dengan inovasi," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (18/2).
Selama ini, produktivitas kedelai lokal masih kalah jauh dibandingkan negara produsen utama seperti Brasil atau Amerika Serikat yang sudah mencapai 3-4 ton per hektare. Kolaborasi dengan BRIN diharapkan bisa menutup celah tersebut dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Menekan Impor, Mengerek Pendapatan Petani
Di balik target produksi itu, ada persoalan struktural yang lebih besar. Indonesia masih mengimpor sekitar 2,5 juta ton kedelai per tahun untuk memenuhi kebutuhan industri tahu dan tempe. Jika target 5 ton per hektare tercapai di lahan yang ada, volume impor bisa ditekan drastis.
Dampaknya langsung ke petani. Dengan produktivitas naik tiga kali lipat, pendapatan per hektare ikut melonjak. Saat ini, biaya produksi kedelai di tingkat petani masih tinggi, sekitar Rp 10-12 juta per hektare, sementara harga jual seringkali tidak stabil.
Mentan berjanji akan ada skema offtake atau jaminan serapan hasil panen. "Petani tidak perlu khawatir harga jatuh. Kami siapkan buffer stock dan kerja sama dengan Bulog serta industri pengolahan," tambah Amran.
Tantangan Lahan dan Iklim
Meski optimistis, tantangan di lapangan tetap besar. Luas panen kedelai nasional terus menyusut dalam satu dekade terakhir, dari sekitar 600.000 hektare pada 2015 menjadi kurang dari 300.000 hektare pada 2024. Alih fungsi lahan dan rendahnya minat petani menanam kedelai menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.
BRIN sendiri telah mengembangkan beberapa galur harapan yang diuji di lahan kering dan tadah hujan. Jika uji coba skala lapangan rampung tahun ini, benih unggul tersebut bisa didistribusikan ke petani mulai musim tanam 2026.
Dengan target produksi 5 ton per hektare, pemerintah tidak hanya mengejar swasembada. Lebih dari itu, ini soal bagaimana membuat petani kembali tertarik menanam kedelai sebagai usaha yang menguntungkan.