Pencarian

PHK di Tambang Mengintai, IMA Desak Relaksasi Produksi Batu Bara Segera Diterapkan

Senin, 08 Juni 2026 • 19:27:02 WIB
PHK di Tambang Mengintai, IMA Desak Relaksasi Produksi Batu Bara Segera Diterapkan
Indonesian Mining Association dorong relaksasi kuota produksi batu bara untuk hindari PHK.

GORONTALO — Jakarta — Tekanan finansial di sektor pertambangan batu bara kian nyata. Indonesian Mining Association (IMA) melaporkan, sejumlah perusahaan tambang sudah terpaksa menghentikan produksi karena biaya operasional membengkak di tengah kuota produksi yang ketat.

Direktur Eksekutif API-IMA, Sari Esayanti, mengungkapkan bahwa situasi ini diperparah oleh penguatan dolar AS yang membuat harga komponen impor—seperti bahan bakar, alat berat, dan suku cadang—melonjak. "Jika melihat situasi nyata di lapangan, tekanan biaya operasional yang tinggi dan penurunan kuota produksi telah membuat beberapa tambang terpaksa menghentikan produksinya," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (8/6).

Menurut Sari, relaksasi produksi yang tengah disiapkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjadi satu-satunya "angin segar" yang bisa menyelamatkan operasi tambang dan lapangan kerja. "Kebijakan ini sangat penting untuk mencegah potensi PHK," tegasnya.

Dilema Dolar: Untung di Ekspor, Boncos di Operasional

Sari menjelaskan, penguatan dolar AS memang menguntungkan dari sisi pendapatan ekspor karena transaksi batu bara menggunakan mata uang greenback. Namun, di sisi lain, beban biaya operasional justru ikut membengkak.

"Kita tahu bahwa komponen utama operasional tambang, seperti bahan bakar, alat berat, dan suku cadang, sangat bergantung pada impor yang harganya terkerek naik akibat kuatnya dolar," ungkap Sari.

Relaksasi yang terukur, menurut IMA, akan memberi ruang bagi perusahaan untuk mengompensasi biaya tinggi tersebut. Dengan begitu, perusahaan bisa tetap berproduksi dan menyetor pajak serta royalti ke negara.

Geopolitik Timur Tengah dan Momentum Harga Tinggi

Rencana relaksasi ini muncul tidak terlepas dari dinamika geopolitik global. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menegaskan bahwa ketegangan di Timur Tengah telah memicu fluktuasi harga komoditas dunia.

"Kita memperhatikan betul kecenderungan geopolitik, ketegangan di Timur Tengah dengan fluktuasi harga global," ujar Bahlil dalam konferensi pers di Komplek DPR RI, Senin (8/6).

Bahlil menekankan, harga komoditas yang sedang bagus harus dimanfaatkan bersama. "Idealnya pemerintah, pengusaha, atau rakyat berkepentingan untuk harga yang bagus. Produksi kita harus banyak supaya pengusaha untung, negara untung, dan rakyat juga mendapat dampak positif," jelasnya.

IMA pun meyakini, jika relaksasi diterapkan di tengah harga komoditas yang tinggi dan dolar yang kuat, dampaknya terhadap penerimaan negara akan sangat signifikan. "Kami mendukung penuh pemerintah untuk menjalankan kebijakan ini secara terukur demi kepentingan nasional," pungkas Sari.

Bagikan
Sumber: tambang.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks