Putaran pendanaan Seri D ini dipimpin oleh Bond Capital, dengan partisipasi dari IVP, Forerunner, Union Square Ventures, Alkeon, dan Quiet. Investor lama seperti Matrix, Lightspeed, Menlo Ventures, dan Schroders Capital juga ikut serta. Sunu mengklaim bahwa mereka "senang mendapat partisipasi dari beberapa artis, produser, penulis lagu, dan orang-orang terbaik dari industri musik," namun secara mencolok tidak menyebutkan satu nama pun.
Keengganan untuk mengungkapkan nama-nama pendukung ini menjadi catatan penting. Seandainya ada artis ternama yang secara terang-terangan mendukung Suno, hal itu bisa meredam narasi bahwa industri musik secara seragam menentang teknologi yang mereka bangun.
Dari 560 Lagu Menjadi Puluhan Ribu Lagu yang Dipersoalkan
Masalah hukum yang dihadapi Suno bukanlah perkara sepele. Perusahaan secara terbuka mengakui bahwa mereka melatih model AI-nya menggunakan lagu-lagu yang dilindungi hak cipta. Pembelaan Suno adalah praktik ini termasuk dalam doktrin "fair use" — sebuah konsep hukum yang mengizinkan penggunaan terbatas materi berhak cipta tanpa izin, namun sangat bergantung pada konteks dan fakta spesifik setiap kasus.
Ketika Sony Music dan Universal Music Group (UMG) pertama kali menggugat Suno pada tahun 2024, mereka menuduh perusahaan itu telah melatih AI-nya pada 560 karya cipta milik mereka. Jumlah itu kemudian membengkak secara signifikan. Bulan lalu, label-label rekaman tersebut mengajukan amandemen gugatan, menuduh bahwa lebih dari 61.000 lagu tambahan digunakan untuk pelatihan AI tanpa izin.
Pertumbuhan Pengguna Tak Terbendung
Terlepas dari tekanan hukum, pertumbuhan Suno justru menunjukkan tren sebaliknya. Aplikasi Suno terus bertengger di puncak tangga lagu App Store untuk kategori musik. Menurut data dari pitch deck yang diperoleh Billboard, pada saat Suno menggalang pendanaan Seri C, pengguna telah menghasilkan lebih dari 7 juta lagu setiap harinya melalui platform tersebut.
Ini adalah angka yang fantastis. Bayangkan, setiap hari lahir jutaan lagu baru yang diciptakan bukan oleh musisi manusia, melainkan oleh kecerdasan buatan berdasarkan perintah teks dari pengguna. Fenomena ini jelas menjadi daya tarik tersendiri bagi investor yang melihat potensi pasar yang masih sangat besar.
Apa Artinya bagi Industri Musik Global dan Indonesia?
Keputusan pengadilan nantinya akan menjadi preseden penting bagi seluruh industri AI generatif, tidak hanya di Amerika Serikat tetapi juga secara global. Jika pengadilan memenangkan label rekaman, model bisnis Suno dan pesaingnya bisa terancam. Sebaliknya, jika "fair use" dimenangkan, pintu bagi eksploitasi karya cipta untuk pelatihan AI akan terbuka semakin lebar.
Bagi industri musik Indonesia yang juga bergulat dengan isu serupa, kasus Suno layak dijadikan bahan pembelajaran. Regulasi hak cipta di Indonesia perlu diuji apakah mampu menjawab tantangan teknologi AI yang bergerak jauh lebih cepat daripada hukum. Sampai ada keputusan hukum yang mengikat, pertarungan antara inovasi dan hak cipta ini masih akan terus berlangsung sengit.