GORONTALO — Film "Sister Brother Manhole Cover" arahan sutradara Milcho Manchevski memenangi Tokyo Grand Prix di Festival Film Internasional Tokyo ke-39. Hadiah utama berhadiah 3 juta yen (sekitar 19.000 dolar AS) itu diumumkan pada malam penutupan di Hulic Hall, Tokyo. Kemenangan ini jadi pembuktian bagi film komedi alegoris yang nyaris tidak pernah diproduksi.
Milcho Manchevski meraih penghargaan tertinggi lewat kisah dua bersaudara yang mencari nafkah dengan mencuri tutup lubang got dan patung tembaga di jalanan Skopje, ibu kota Makedonia Utara. Film ini disebut sebagai karya fiksi panjang pertamanya sejak "Kaymak".
Malam penutupan diguyur hujan gerimis, tapi aula tetap penuh penonton. Suasananya jauh lebih tenang dibanding pembukaan festival yang diterjang hujan deras. Ketua dewan juri Rolf de Heer menyebut ada 15 film kompetisi dengan karakter yang sangat berbeda sehingga sulit dibandingkan satu sama lain.
Rolf de Heer menjelaskan pihaknya memilih "Sister Brother Manhole Cover" karena kemanusiaan dan empati yang ditunjukkan terhadap para tokohnya. Menurutnya, film ini kompleks dan koheren, sekaligus menyentuh dan jenaka.
Dewan juri lain yang terlibat adalah produser Alex Lo dan Oh Jungwan, aktor Watanabe Makiko, serta colorist Yov Moor. De Heer bahkan menyebut direktur program Ichiyama Shozo seperti sengaja menguji mereka lewat pilihan film yang begitu beragam.
Manchevski sudah meninggalkan Tokyo saat pengumuman, sehingga produser Jane Kortoshev bersama pemeran utama Sara Klimoska dan Filip Trajkovi? naik panggung menerima trofi. Wakil Gubernur Tokyo Yamashita Satoshi menyerahkan Governor of Tokyo Award mewakili Gubernur Koike Yuriko yang berhalangan hadir.
"Kami datang ke Tokyo membawa tutup lubang got, dan pulang ke Makedonia membawa penghargaan yang indah," kata Kortoshev. "Menurut saya itu kesepakatan yang cukup bagus, kan?"
Sutradara menyampaikan pesan lewat video. Menurut Manchevski, penghargaan ini jadi pembenaran kecil bagi film unik yang hampir batal dibuat. Film ini bercerita soal keluarga tak biasa serta soal mereka yang punya dan tidak punya, dan lebih soal manusia ketimbang pesan.
"Magic Atlas" adalah film animasi yang dikerjakan Sun Xun sekitar satu dekade. Kisahnya tentang seorang yatim piatu yang mewarisi buku pesulap dan memakainya untuk memulihkan ingatan yang dikubur sebuah kekaisaran otoriter. Juror Oh Jungwan memuji kualitas pengerjaannya yang luar biasa.
Lisandro Alonso mendapat penghargaan sutradara terbaik untuk "Double Freedom", yang diposisikan festival sebagai semacam sekuel dari debutnya "La Libertad" (2001). Alex Lo memuji bahasa sinematiknya yang minimalis namun efisien dalam menangkap beban dan aliran waktu. Alonso tidak bisa hadir dan menyampaikan harapan bisa datang ke Tokyo di masa depan dengan film lain.
Satu-satunya kemenangan Jepang di kompetisi utama datang dari kategori akting. Narita Ryo dinobatkan sebagai aktor terbaik lewat film "Two Cigarettes, Three Nights" arahan Mishima Yukiko. Ia berperan sebagai sahabat lama yang kembali bertemu seorang ilustrator Kyoto yang kariernya mandek, dalam tiga malam di tiga kota.
Narita tidak hadir di upacara dan Mishima menerima penghargaan atas namanya. Sutradara itu bercerita soal hari ketika syuting sangat butuh salju tapi langit tak kunjung menurunkan hujan es. Narita, kata Mishima, berteriak ke langit meminta salju turun, dan permintaan itu terkabul.
Aktris terbaik jatuh ke tangan Hu Ling lewat debut penyutradaraan Wang Jiangyong, "The Night That Binds Us". Ia memerankan pengelola asrama di Shanghai yang berduka dan jatuh cinta pada mahasiswa lebih muda yang orang tuanya ditahan karena dugaan penipuan. Hu tampak emosional saat berterima kasih kepada almamaternya, Beijing Film Academy.
Jelena Maksimovi? membawa pulang penghargaan kontribusi artistik terbaik lewat debutnya, "Until the Day Ends". Film itu mengikuti seorang aktivis mahasiswa dan pendukung pemerintah muda yang melakukan perjalanan bersama selama protes Serbia 2024. Maksimovi? mendedikasikan penghargaan untuk para mahasiswa dan warga Serbia yang dua tahun terakhir berjuang demi kebebasan.
Direktur festival Hisamatsu Takeo menyerahkan audience award tanpa hadiah uang kepada "Heysel 85" arahan Teodora Ana Mihai. Film ini merekonstruksi tragedi stadion Brussels 1985, ketika kekerasan suporter sebelum final Piala Eropa menewaskan 39 orang. Mihai mengaku selalu ada rasa takut karyanya tidak diterima dengan baik, sehingga penghargaan ini terasa istimewa.
Kompetisi Festival Film Internasional Tokyo tahun ini menegaskan posisinya sebagai ajang bagi sinema yang berani secara bentuk maupun tema, dari animasi eksperimental hingga drama sosial tentang keluarga pinggiran.