GORONTALO — Masyarakat di Desa Tilote, Kecamatan Tilango, kini mendapat pendampingan langsung dari tenaga gizi untuk mengelola diabetes melalui makanan sehari-hari. Poltekkes Kemenkes Gorontalo memilih pendekatan ini karena angka diabetes di daerah masih tinggi, sementara akses ke edukasi gizi terbatas.
Ketua Tim Pengabdian, Sofyawati Talibo, SKM, M.Kes, menjelaskan bahwa edukasi difokuskan pada substitusi sumber karbohidrat. Indonesia memiliki sagu, jagung, ubi jalar, singkong, dan talas yang lebih ramah terhadap kadar gula darah.
“Jika diolah dengan benar, bahan pangan tersebut dapat membantu menjaga kestabilan kadar gula darah,” ujar Sofyawati dalam kegiatan yang dibuka oleh Kepala Desa Tilote dan Kepala Puskesmas Tilango.
Peserta tidak hanya mendengar teori. Mereka mengikuti demonstrasi pembuatan makanan berbahan pangan lokal yang disesuaikan dengan kebutuhan gizi penderita diabetes. Menu yang diperkenalkan membatasi gula sederhana dan lemak jenuh, namun tetap mengedepankan rasa yang akrab di lidah warga Gorontalo.
Dalam materi edukasi disebutkan bahwa sagu mengandung pati resisten yang memperlambat pencernaan. Jagung kaya serat dan beta-karoten, sementara ubi jalar serta talas memiliki indeks glikemik rendah hingga sedang dan kaya antioksidan.
Sofyawati menekankan bahwa pengendalian diabetes tidak bergantung pada obat semata. Empat pilar utamanya adalah edukasi, pengaturan gizi, aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu, serta terapi medis. Warga juga didorong mengelola stres dan tidur cukup.
“Keberhasilan pengendalian diabetes juga bergantung pada perubahan gaya hidup,” kata Sofyawati.
Selain edukasi, tim menyerahkan alat pemeriksaan kesehatan kepada masyarakat. Langkah ini untuk mendukung pemantauan kondisi kesehatan secara berkala di Desa Tilote. Harapannya, kader kesehatan dapat meneruskan pengetahuan ke warga lain sehingga pemanfaatan pangan lokal tidak sekadar menjaga kearifan kuliner, tetapi juga menjadi bagian dari pencegahan dan pengendalian diabetes di tingkat desa.