FCC Setujui Uji Coba Satelit Cermin Pemantul Cahaya Matahari, Ilmuwan Khawatirkan Dampak ke Astronomi

Penulis: Feri Andika  •  Sabtu, 11 Juli 2026 | 18:47:01 WIB
Satelit Earendil-1 akan diuji coba memantulkan cahaya matahari ke Bumi saat malam hari.

GORONTALO — FCC mengeluarkan izin untuk satelit Earendil-1 milik Reflect Orbital, sebuah startup yang ingin membangun konstelasi satelit pemantul cahaya mirip Starlink. Bedanya, satelit ini tidak dirancang untuk telekomunikasi, melainkan untuk mengarahkan sinar matahari ke titik tertentu di Bumi saat malam hari.

Bagaimana Cara Kerja Earendil-1?

Earendil-1 dibekali lapisan reflektif tipis (thin-film reflector) yang bisa diatur sudut pantulnya. Satelit ini juga memiliki sistem propulsi untuk bermanuver dan menghindari tabrakan di orbit. Dalam jangka panjang, Reflect Orbital membayangkan jaringan satelitnya bisa digunakan untuk menyalakan panel surya di malam hari atau membantu tim pencari dan penyelamat (search and rescue) dengan cahaya tambahan.

Namun, uji coba ini baru akan dilakukan dengan satu satelit. Jika berhasil, barulah perusahaan berencana memperluas jaringannya seperti model bisnis Starlink milik SpaceX.

Kekhawatiran Ilmuwan dan Risiko Kebutaan

American Astronomical Society (AAS) menjadi salah satu penentang paling vokal. Mereka menyebut aplikasi Reflect Orbital "fundamentally different from those for telecommunications satellites" (secara fundamental berbeda dari satelit telekomunikasi).

"The proposed satellite would be intentionally reflecting sunlight on Earth and is designed to be as bright as possible, making impacts on astronomical research extremely challenging to mitigate," tulis AAS dalam pernyataannya. (Satelit yang diusulkan ini sengaja memantulkan sinar matahari ke Bumi dan dirancang seterang mungkin, membuat dampak pada riset astronomi sangat sulit untuk dimitigasi.)

Lebih mengkhawatirkan lagi, AAS memperingatkan risiko cedera mata. Pantulan cahaya dari Earendil-1 bisa menyebabkan kerusakan mata bagi astronom amatir yang menggunakan teleskop, serta memicu "temporary flash blinding of pilots and drivers" (kebutaan sementara pada pilot dan pengemudi). Menariknya, Reflect Orbital sendiri mengakui risiko ini, terutama jika seseorang melihat satelit melalui teleskop dengan bukaan lebih dari 12 inci.

Mengapa FCC Tetap Memberi Izin?

Dalam dokumen persetujuannya, FCC memilih untuk tidak mempertimbangkan masalah kesehatan dan lingkungan tersebut. Komisi beralasan bahwa kewenangan mereka terbatas pada pengaturan spektrum frekuensi radio, bukan dampak optis dari satelit.

FCC merujuk pada Communications Act yang menyatakan kebijakan AS adalah "encourage the provision of new technologies and services to the public" (mendorong penyediaan teknologi dan layanan baru kepada publik). Menurut FCC, teknologi Reflect Orbital dinilai demi kepentingan publik, sementara kekhawatiran soal lingkungan dan kesehatan dianggap "unrelated to the Commission's role" (tidak terkait dengan peran Komisi).

Dalam opininya, FCC bahkan menuliskan perbandingan risiko: "We might weigh the small risk that an individual happens to be using a large telescope at the exact moment that Earendil-1 passes overhead... against the benefits of permitting American companies to test innovative technology in space." (Kami mungkin mempertimbangkan risiko kecil seseorang menggunakan teleskop besar tepat saat Earendil-1 melintas... dibandingkan manfaat mengizinkan perusahaan Amerika menguji teknologi inovatif di luar angkasa.)

Langkah Antisipasi dan Celah Regulasi

Reflect Orbital mengklaim sudah menyiapkan sejumlah langkah pencegahan. Perusahaan hanya akan memantulkan cahaya pada waktu yang telah ditentukan, memberi peringatan dini kepada peneliti, dan menghindari area dekat observatorium serta kawasan lindung.

Namun, muncul pertanyaan besar: jika regulator yang memberi izin (FCC) tidak memiliki mandat untuk mengkaji dampak nyata satelit terhadap langit dan Bumi, lalu siapa yang bertanggung jawab? James Verner dari Dark Sky UK menyoroti celah ini: "If the regulator licensing these satellites has no mandate to examine what they actually do to the sky or the Earth below... then who does?" (Jika regulator yang melisensikan satelit ini tidak punya mandat untuk memeriksa apa yang sebenarnya mereka lakukan terhadap langit atau Bumi di bawahnya... lalu siapa yang punya?)

Pertanyaan ini masih menggantung, terutama jika uji coba Earendil-1 berhasil dan Reflect Orbital mulai meluncurkan lebih banyak satelit ke orbit.

Reporter: Feri Andika
Sumber: engadget.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top