GORONTALO — Dokter sub spesialis RSUD Dr Hasri Ainun Habibie Provinsi Gorontalo, dr Taufik Ramadhan Biya SpPD Subsp EMD(K) FINASIM, menyampaikan imbauan itu di Gorontalo, Kamis. Ia menekankan pemakaian masker dan pembatasan kegiatan luar rumah sebagai langkah utama menghadapi kabut asap tebal.
"Pemakaian masker dan meminimalisir kegiatan atau berolahraga di luar rumah agar dapat diterapkan, untuk mewaspadai ISPA dan gangguan pernapasan akibat kabut asap tebal di Gorontalo," kata Taufik.
Masker N95 Lebih Efektif Menyaring Partikel PM2.5
Menurut Taufik, masker kain maupun masker bedah biasa kurang efektif menyaring partikel halus PM2.5. Ia menganjurkan penggunaan respirator N95 atau KN95 yang terpasang rapat saat warga harus beraktivitas di luar rumah.
Kelompok berisiko tinggi mendapat perhatian khusus. "Anak-anak, lansia dan ibu hamil pun sebaiknya lebih banyak berada di dalam rumah," ujarnya.
Kabut asap, lanjut dia, dapat menyebabkan iritasi saluran napas, memperburuk asma dan penyakit paru, serta meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut.
Menutup Jendela hingga Menjaga Kelembapan Saluran Napas
Taufik menganjurkan warga menjaga kualitas udara dalam rumah dengan menutup pintu dan jendela saat asap pekat. Penggunaan air purifier berfilter HEPA jika tersedia juga disarankan.
Warga diminta menghindari merokok, membakar sampah, atau menyalakan obat nyamuk bakar. Kebutuhan cairan harus dicukupi dengan minum air putih teratur.
"Cairan membantu menjaga kelembapan saluran pernapasan," kata Taufik.
Konsumsi makanan bergizi dengan memperbanyak buah, sayuran, dan sumber protein disebut turut mendukung sistem imun. Istirahat cukup dan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti cuci tangan memakai sabun serta etika batuk, juga penting.
Kenali Gejala dan Tanda Bahaya yang Butuh IGD
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Cabang Gorontalo ini mengingatkan warga mengenali gejala gangguan pernapasan. Batuk, pilek, nyeri tenggorokan, mata perih, mengi, atau sesak napas perlu diwaspadai.
"Bila keluhan menetap atau memburuk, segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan," katanya.
Sejumlah tanda bahaya memerlukan penanganan Instalasi Gawat Darurat (IGD). Di antaranya sesak napas berat, napas cepat disertai kesulitan berbicara, nyeri dada, bibir kebiruan, penurunan kesadaran, dan saturasi oksigen sangat rendah.
Penderita asma, PPOK, atau penyakit jantung diminta memastikan obat rutin tetap digunakan sesuai anjuran dokter. Warga juga dianjurkan memantau kualitas udara harian melalui kanal resmi pemerintah atau aplikasi pemantauan kualitas udara, lalu menyesuaikan aktivitas dengan kadar polusi, terutama PM2.5.