GORONTALO — Merek yang kini berada di bawah Stellantis itu menghadirkan Auto-Pilot di era ketika mobil baru mulai dilengkapi dengan fitur-fitur elektrik. Dalam sebuah rilis lawas yang sempat beredar, Chrysler menyebut opsi ini sebagai terobosan untuk mengurangi kelelahan pengemudi di perjalanan jauh. Namun, belum ada konfirmasi apakah sistem tersebut sudah menggunakan sensor elektronik atau masih mengandalkan mekanisme analog.
Auto-Pilot Chrysler 1958 disebut-sebut mampu mempertahankan kecepatan mobil tanpa pengemudi harus terus menginjak pedal gas. Konsep ini nyaris identik dengan cruise control yang kemudian menjadi fitur standar di banyak mobil modern. Meski tidak seekstensif Autopilot buatan Tesla yang bisa mengakselerasi, mengerem, dan bermanuver, inovasi Chrysler sudah menunjukkan arah teknologi pada masa itu.
Sayangnya, tidak ada data lengkap mengenai bagaimana sistem ini diaktifkan atau berapa lama ia bisa beroperasi tanpa intervensi pengemudi. Dokumentasi yang tersedia hanya menyebutnya sebagai "opsi Auto-Pilot" tanpa detail wiring atau komponen pendukung.
Diskusi soal sejarah otomotif belakangan ramai setelah Tesla menjadi ikon teknologi self-driving. Banyak pengamat mulai menelusuri jejak inovasi serupa dari dekade-dekade sebelumnya. Chrysler Auto-Pilot menjadi salah satu contoh bahwa ide bantuan pengemudi bukanlah hal baru, hanya saja implementasi dan skalanya sangat berbeda dengan era digital saat ini.
Di Indonesia, teknologi serupa baru populer dalam lima tahun terakhir melalui fitur adaptive cruise control pada mobil premium. Sementara Chrysler sendiri sudah lama hengkang dari pasar domestik, jejak inovasinya tetap menjadi catatan menarik bagi penggemar sejarah otomotif.
Meskipun kemampuan Auto-Pilot 1958 sangat terbatas jika dibandingkan dengan sistem ADAS (Advanced Driver-Assistance Systems) masa kini, konsepnya menjadi fondasi. Chrysler membuktikan bahwa pabrikan tradisional pun pernah berani melangkah ke zona yang saat itu belum lazim. Tesla boleh menjadi yang terdepan sekarang, tapi benihnya sudah ditanam lebih dari setengah abad lalu.
Belum ada rencana dari Stellantis untuk menghidupkan kembali nama Auto-Pilot pada model baru. Namun, warisan ini setidaknya mengingatkan bahwa inovasi otomotif seringkali berputar—dan yang lama bisa kembali relevan di masa depan.