GORONTALO — Jumlah prajurit AS yang gugur akibat serangan Iran di situs resmi Pentagon, Defense Casualty Analysis System (DCAS), mengalami penurunan yang menimbulkan kontroversi. The New York Times, Kamis (23/7), melaporkan penurunan angka kematian tersebut terjadi secara tiba-tiba, memicu spekulasi bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump sengaja menghapus nama empat tentara yang tewas setelah gencatan senjata diumumkan pada April lalu.
Menanggapi laporan itu, Juru Bicara Pentagon Sean Parnell dengan tegas membantah adanya unsur kesengajaan. Dalam pernyataannya di platform X, Jumat (24/7), Parnell menuduh media AS menyebarkan informasi palsu.
“Ini adalah salah satu contoh terburuk dari industri media fake news, yang mengada-ada kebohongan tanpa alasan sama sekali, kecuali untuk menimbulkan kekhawatiran di kalangan rakyat Amerika,” tulis Parnell.
Parnell menjelaskan bahwa kantor pers Pentagon telah menghubungi The New York Times secara tidak resmi untuk memberikan penjelasan rinci. Menurutnya, kesalahan pada situs DCAS murni disebabkan oleh gangguan data sementara yang sedang dalam proses perbaikan. Pentagon kini bekerja sama dengan pihak militer AS untuk menyelesaikan masalah teknis tersebut.
Penurunan angka korban ini terjadi di tengah eskalasi militer terbaru antara AS dan Iran. Sejak 8 Juli, militer AS melancarkan sejumlah serangan terhadap Iran setelah Trump menyatakan gencatan senjata tidak lagi berlaku. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut serangan itu sebagai respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Militer Iran membalas dengan melancarkan serangan ke sejumlah pangkalan AS di beberapa negara Timur Tengah. Teheran juga menuding Washington melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati. Eskalasi ini menjadikan data korban jiwa di pihak AS sebagai informasi yang sangat sensitif secara politik.
Meski Pentagon bersikukuh pada penjelasan teknis, sengketa soal angka kematian prajurit ini memiliki implikasi serius. Di masa perang, transparansi data korban menjadi tolok ukur kredibilitas pemerintah di mata publik dan keluarga tentara. Tuduhan manipulasi data, meskipun telah dibantah, berpotensi menggerus kepercayaan terhadap institusi militer AS.
Hingga berita ini diturunkan, The New York Times belum memberikan tanggapan resmi atas bantahan Pentagon. Situs DCAS sendiri belum sepenuhnya pulih, dan jumlah korban tewas yang tercantum masih menjadi perdebatan di kalangan pengamat militer dan media AS.