GORONTALO — Penerapan B50 yang mulai berlaku hari ini tak perlu membuat pemilik mobil diesel panik. Yannes Martinus Pasaribu, pakar otomotif ITB, mengatakan kendaraan yang selama setahun terakhir sudah menggunakan B40 pada dasarnya siap beradaptasi.
"Karena Indonesia sudah menerapkan B40 lebih dari setahun, efek pelarut biodiesel B50 dalam membersihkan endapan lama di tangki dan saluran sudah jauh berkurang," ujarnya.
Artinya, risiko penyumbatan filter bahan bakar saat pertama kali beralih ke B50 jauh lebih kecil dibandingkan transisi dari solar konvensional ke biodiesel dulu. Bagi pemilik kendaraan di Gorontalo yang rutin servis, kabar ini tentu melegakan.
Yannes mengakui B50 punya konsekuensi. Nilai kalor biodiesel lebih rendah dari solar murni, sehingga konsumsi bahan bakar berpotensi sedikit meningkat. Namun selisihnya kecil dan tak akan terasa dalam pemakaian harian, terutama pada mesin yang kondisinya prima.
Sebagai kompensasi, B50 menghasilkan emisi karbon monoksida (CO) dan asap yang lebih rendah. "Secara keseluruhan, B50 tidak jauh berbeda performanya dengan B40 bagi kendaraan yang sudah terawat dengan baik," kata Yannes.
Pola perawatan tak perlu dirombak total. Filter bahan bakar, misalnya, tak harus langsung diganti saat pertama kali mengisi B50. Penggantian tetap mengikuti jadwal servis dari pabrikan.
Namun untuk kendaraan tua di Gorontalo, pemeriksaan filter disarankan lebih sering sebagai antisipasi. Yannes juga mengingatkan pemilik kendaraan rutin memeriksa kondisi seal dan komponen karet. Sebab, biodiesel sedikit lebih agresif terhadap material tertentu dibanding solar biasa.
"Dengan perawatan normal yang konsisten, kendaraan diesel dapat menggunakan B50 dengan aman dan optimal," ujarnya.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, mengatakan distribusi B50 sudah dimulai secara bertahap. Sebanyak 29 dari total 126 terminal BBM Pertamina siap menyalurkan Biosolar B50.
Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026, badan usaha yang masih memiliki stok B40 diperbolehkan menyalurkannya hingga 30 September 2026. Setelah itu, seluruh distribusi beralih penuh ke B50.
"Kami masih terus melakukan pemantauan untuk memastikan distribusi B50 berjalan lancar hingga ke lembaga penyalur dan dapat dikonsumsi masyarakat," kata Kitty.
Presiden Prabowo Subianto menyatakan B50 adalah bagian dari strategi besar memperkuat ketahanan energi. Peningkatan penggunaan biodiesel diharapkan mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor BBM.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, memastikan seluruh sektor siap menjalankan kebijakan ini. B50 telah diuji coba pada mobil penumpang, alat berat, kereta api, kapal, hingga alat pertanian. "Sudah siap di seluruh Indonesia, persiapannya matang," katanya.