GORONTALO — PBOC menetapkan fixing yuan di 6,7966 per dolar AS, lebih kuat dari perkiraan pasar yang berada di kisaran 6,80. Patokan ini menjadi acuan bagi pergerakan yuan di pasar spot dan menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar valuta asing global. Selama ini, fixing harian digunakan Beijing untuk mengelola ekspektasi pasar terhadap nilai tukar mata uangnya.
Level 6,8 per dolar AS merupakan batas psikologis yang dijaga ketat oleh PBOC sepanjang tahun lalu. Sepanjang 2024, bank sentral China cenderung menahan yuan agar tidak menguat terlalu cepat di tengah perlambatan ekonomi domestik dan kebijakan moneter ketat Federal Reserve. Penetapan fixing di bawah level ini menandakan perubahan sikap.
“Ini sinyal bahwa PBOC tidak lagi khawatir dengan penguatan yuan. Mereka mungkin menilai tekanan eksternal sudah mereda dan stabilitas makroekonomi China sudah cukup kuat untuk menyerap apresiasi,” ujar analis valas dari sebuah bank investasi global dalam risetnya yang dikutip Bloomberg.
Keputusan PBOC ini langsung mendorong yuan spot menguat tipis di perdagangan Asia. Penguatan yuan biasanya berdampak positif bagi mata uang negara berkembang lainnya, termasuk rupiah, karena mengurangi tekanan depresiasi di kawasan. Sejak awal pekan, rupiah tercatat bergerak stabil di kisaran Rp 16.200 per dolar AS.
Bagi pelaku bisnis Indonesia, penguatan yuan berarti harga impor barang modal dan bahan baku dari China berpotensi lebih murah dalam denominasi dolar. Namun, di sisi lain, daya saing ekspor non-migas Indonesia ke China bisa sedikit tertekan jika yuan terus menguat karena harga produk Indonesia jadi lebih mahal bagi pembeli China.
China merupakan mitra dagang terbesar Indonesia. Dengan yuan yang menguat, biaya impor bahan baku industri dan barang konsumsi dari China dalam rupiah berpotensi turun. Hal ini bisa membantu menahan laju inflasi impor di tengah harga komoditas global yang masih fluktuatif. Pelaku usaha yang memiliki utang dalam yuan juga akan diuntungkan karena beban pembayaran dalam rupiah berkurang.
Meski demikian, pasar masih menunggu konsistensi kebijakan PBOC ke depan. Jika penguatan yuan terjadi terlalu cepat, bukan tidak mungkin bank sentral China akan kembali melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas. Pelaku pasar disarankan mencermati pergerakan kurs harian dan kebijakan fiskal China selanjutnya.