Laba Pertamina Trans Kontinental Tembus Rp1,32 Triliun di 2025, Armada Kapal Hampir Tak Pernah Nganggur

Penulis: Ivan Setiawan  •  Selasa, 16 Juni 2026 | 21:46:31 WIB
Armada PT Pertamina Trans Kontinental hampir tanpa waktu menganggur dengan fleet commercial days mencapai 358,52 hari pada 2025.

GORONTALO — Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PTK yang digelar di Jakarta, Senin (15/6/2026), mengungkap fakta menarik: dari total 370 armada kapal yang dikelola, hampir seluruhnya bekerja efektif sepanjang tahun. Indikator fleet commercial days mencapai 358,52 hari, artinya kapal-kapal PTK nyaris tidak memiliki waktu menganggur.

Rincian Kinerja: Pendapatan Naik, Efisiensi Terjaga

Komisaris Utama PTK, Subagjo Hari Moeljanto, mengapresiasi manajemen yang mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan tata kelola. "PTK berhasil menjaga keseimbangan antara pertumbuhan usaha, peningkatan profitabilitas, pengelolaan risiko, serta implementasi tata kelola perusahaan yang baik," ujarnya dalam RUPST.

Plt Direktur Utama PTK, Eko Cahyadi, membeberkan sumber pertumbuhan. Pendapatan tidak hanya berasal dari jasa penyewaan kapal (marine service), tetapi juga dari bisnis keagenan dan tambahan lini usaha anyar. "Pertumbuhan keuangan ini sejalan dengan peningkatan pendapatan, terutama dari kegiatan layanan marine, keagenan, serta upaya peningkatan pendapatan melalui penambahan bisnis baru," jelas Eko.

Dari sisi operasional, tingkat okupansi armada juga impresif. Commission Days tercatat 120.118 hari dan Commercial Days 119.390 hari. Artinya, kapal-kapal PTK tidak hanya siap operasi, tapi juga nyaris seluruhnya dikontrakkan.

Keselamatan Nol Kecelakaan dan Skor GCG "Sangat Baik"

Yang tak kalah penting, PTK berhasil mempertahankan rekor Zero Fatality dan Zero Oil Spill sepanjang 2025. Eko menekankan komitmen perusahaan terhadap budaya keselamatan kerja dan perlindungan lingkungan. "Hal ini menunjukkan komitmen kuat seluruh insan PTK dalam membangun budaya keselamatan kerja, keamanan operasi, dan perlindungan lingkungan yang berkelanjutan," ujarnya.

Kepatuhan terhadap tata kelola juga moncer. Skor Good Corporate Governance (GCG) PTK mencapai 89,46, masuk kategori "Sangat Baik". Angka ini diraih berkat penguatan audit internal, manajemen risiko, dan penerapan Anti-Bribery Management System.

Di sisi lingkungan, PTK menjalankan program Green Port, Green Building, serta menanam mangrove dan memberdayakan masyarakat pesisir sebagai bagian dari tanggung jawab sosial.

Strategi 2026: Digitalisasi dan Kapal Rendah Karbon

Menatap tahun 2026, Eko menyebut perusahaan akan fokus pada daya saing. "PTK akan terus meningkatkan daya saing usaha, memprioritaskan aspek keamanan, keselamatan dan operational excellence sebagai kebutuhan usaha," katanya.

Inovasi teknologi menjadi kunci. PTK berencana mengadopsi teknologi low carbon energy untuk perkapalan dan mempercepat digitalisasi di berbagai proses bisnis. Langkah ini diambil untuk menjaga ketahanan energi nasional melalui layanan maritim yang profesional dan berdaya saing.

Sebagai perusahaan logistik energi maritim, PTK mengelola ratusan kapal di titik-titik strategis Indonesia. Tingkat keandalan layanan mereka tercatat di atas 99%, indikator penting yang menjamin ketepatan waktu dan keselamatan pengiriman energi nasional.

Reporter: Ivan Setiawan
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top