GORONTALO — Sebelum era mobil listrik dan hybrid menjamur seperti sekarang, tantangan terbesar ada pada sumber dayanya. Baterai nickel-metal hydride (NiMH) memang sudah dipakai di mobil hybrid sebelumnya, tapi bobotnya berat dan kepadatan energinya rendah. Terobosan baru muncul ketika Mercedes-Benz memperkenalkan S400 BlueHybrid pada 2009. Bukan sekadar hybrid biasa, mobil ini adalah yang pertama menggunakan baterai lithium-ion dalam produksi massal — teknologi yang kini jadi standar di hampir semua mobil hybrid dan listrik.
Baterai lithium-ion punya keunggulan signifikan dibanding NiMH. Dengan kepadatan energi mencapai 270 watt-jam per kilogram (Wh/kg), baterai ini mampu menyimpan lebih banyak energi dalam ukuran dan bobot yang lebih kecil. Sebagai perbandingan, baterai NiMH hanya sanggup menyimpan 60-120 Wh/kg. Namun, kelemahan utamanya adalah risiko kebakaran akibat elektrolit cair yang mudah panas.
Mercedes mengatasi masalah itu dengan mengintegrasikan baterai langsung ke sistem pendingin mobil. Suhu baterai dijaga ketat di kisaran 59-95 derajat Fahrenheit. Solusi ini membuktikan bahwa lithium-ion bisa bekerja stabil di kondisi temperatur kendaraan yang ekstrem — sesuatu yang sebelumnya diragukan banyak pihak.
Berbeda dari saudara-saudaranya yang menggendong mesin V8 atau V12, S400 Hybrid mengandalkan mesin V6 3.5 liter siklus Atkinson. Motor listrik 15 kW (20 hp) ditempatkan di rumah konverter torsi antara mesin dan transmisi otomatis 7-percepatan. Hasilnya, tenaga gabungan mencapai 295 hp dan torsi 284 lb-ft. Akselerasi 0-60 mph tercatat 7,1 detik, dengan kecepatan maksimum dibatasi elektronik di 155 mph.
Saat deselerasi atau pengereman, mesin bensin berhenti bekerja di bawah kecepatan 9 mph. Motor listrik berfungsi sebagai generator untuk memulihkan energi yang hilang ke baterai 120-volt. Sistem ini juga membantu akselerasi dan menyuplai listrik ke komponen kelistrikan mobil melalui transformator 12-volt.
Berkat bantuan mild-hybrid, S400 Hybrid mencatatkan efisiensi bahan bakar 19 mpg kota, 25 mpg jalan tol, dan 21 mpg gabungan — menjadikannya S-Class paling irit saat itu. Sebagai perbandingan, S550 dengan mesin V8 5.5 liter hanya mampu 15 mpg kota, 23 mpg tol, dan 18 mpg gabungan.
Sebelum S400 Hybrid, hanya dua mobil listrik murni yang memakai baterai lithium-ion. Pertama, Nissan Altra EV pada 1998 — hanya 200 unit diproduksi dan disewakan ke perusahaan utilitas, bukan dijual ke publik. Kedua, Tesla Roadster generasi pertama yang meluncur sekitar satu dekade setelah Altra. Keduanya adalah mobil listrik penuh, bukan hybrid. S400 Hybrid-lah yang pertama membuktikan bahwa baterai lithium-ion bisa diterapkan pada sistem hybrid produksi massal.