GORONTALO — Laporan CNBC menyebut Musk telah berdiskusi dengan kolega internal soal kemungkinan merger Tesla dan SpaceX. Wacana ini mencuat hanya beberapa pekan sebelum SpaceX dijadwalkan melantai di Nasdaq pada 12 Juni mendatang. Target valuasi mencapai USD 1,75 triliun dengan dana terkumpul sekitar USD 75 miliar — menjadikannya IPO terbesar dalam sejarah.
Kapitalisasi pasar Tesla saat ini berada di kisaran USD 1,6 triliun. Artinya, entitas gabungan berpotensi bernilai lebih dari USD 3 triliun. Analis Wedbush, Dan Ives, memperkirakan probabilitas merger mencapai 80 hingga 90 persen pada awal 2027. Namun pasar prediksi Kalshi hanya memberi odds 33 persen untuk merger sebelum Mei 2027.
Masalah utama terletak pada struktur kepemilikan saham. Musk memegang sekitar 20 persen ekuitas Tesla, tetapi menguasai 85,1 persen hak suara SpaceX melalui kelas saham super-voting. Saat negosiasi merger berlangsung, Musk bernegosiasi dengan dirinya sendiri — dan kepentingannya tidak terdistribusi secara merata di antara kedua perusahaan.
Ini bukan kali pertama Musk memainkan skema serupa. Setidaknya sudah ada tiga transaksi miliaran dolar yang ia kendalikan langsung:
Jika merger Tesla-SpaceX terjadi, pemegang saham Tesla akan menggabungkan perusahaan senilai USD 1,6 triliun dengan entitas yang sudah memuat kerugian Twitter, perusahaan AI yang diakui sendiri oleh Musk sebagai gagal dibangun, serta bisnis roket dengan valuasi gila-gilaan yang bertumpu pada mimpi Mars yang terus tertunda.
Pola self-dealing ini belum pernah terjadi di korporasi Amerika dalam skala sebesar ini. Musk telah membangun buku panduan yang tidak lazim: memaksa perusahaan yang ia kendalikan untuk saling membeli satu sama lain, dengan dirinya sebagai satu-satunya pihak yang diuntungkan di semua sisi meja negosiasi.