GORONTALO — Harga emas di Pegadaian bergerak bervariasi pada perdagangan Rabu (23/9/2026), dengan Galeri24 turun tipis sementara Antam dan UBS justru menguat. Pergerakan ini terjadi di tengah tekanan harga emas dunia yang telah merosot lebih dari 22 persen dari rekor tertingginya pada Januari 2026. Bagi nasabah yang ingin bertransaksi, selisih harga antarproduk kini mencapai puluhan ribu rupiah per gram.
Paragraf pembuka: Pemantauan laman Pegadaian pada pukul 12.22 WIB menunjukkan harga emas Galeri24 dipatok Rp 2.573.000 per gram, turun dari posisi sehari sebelumnya di Rp 2.576.000 per gram. Sementara itu, emas Antam naik menjadi Rp 2.670.000 per gram dari Rp 2.667.000 per gram, dan emas UBS menguat ke Rp 2.606.000 per gram dari Rp 2.601.000 per gram. Pegadaian menegaskan harga emas dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan pasar.
Rincian Harga per Ukuran
Bagi nasabah yang membeli dalam ukuran besar, selisih harga antarproduk semakin terasa. Emas Galeri24 ukuran 5 gram dijual Rp 12.614.000, sementara Antam ukuran sama dibanderol Rp 13.119.000 dan UBS Rp 12.777.000.
Pada ukuran 10 gram, Galeri24 dipatok Rp 25.161.000, Antam Rp 26.182.000, dan UBS Rp 25.420.000. Adapun untuk ukuran 100 gram, Galeri24 tersedia Rp 249.934.000, Antam Rp 261.071.000, dan UBS Rp 253.079.000.
Pilihan ukuran juga berbeda antarproduk. Galeri24 menyediakan pecahan mulai 0,5 gram hingga 1.000 gram atau 1 kilogram. UBS tersedia dari 0,5 gram sampai 500 gram, sedangkan Antam ditawarkan hingga ukuran 100 gram.
Tekanan dari Kebijakan The Fed
Pelemahan harga emas dunia tidak lepas dari ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang bertahan tinggi lebih lama. Mengutip Yahoo Finance, harga emas spot turun 0,3 persen menjadi US$ 4.332,34 per ons, sedangkan emas berjangka AS melemah 0,3 persen ke US$ 4.370,40.
Pelaku pasar kini melihat peluang 90 persen untuk kenaikan suku bunga lanjutan pada Desember, naik dari 80 persen sepekan sebelumnya, berdasarkan data CME FedWatch Tool. Sikap hawkish Presiden Fed St Louis Alberto Musalem dan Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee memperkuat ekspektasi tersebut.
"Masalahnya adalah, meskipun harga minyak cenderung sedikit menurun, pasar terus memperhitungkan kenaikan suku bunga The Fed secara kuat, dalam beberapa hari terakhir, dolar AS menunjukkan sedikit penguatan, dan hal itu biasanya berdampak negatif bagi emas," ujar TD Securities Global Head of Commodity Strategy Bart Melek.
Yang Perlu Dicermati Investor
Harga emas telah turun lebih dari 22 persen dari rekor tertinggi sepanjang masa pada Januari di US$ 5.594,82 per ons. Pembalikan arah ini didorong ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat menyusul perang AS-Israel melawan Iran serta kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga energi.
Ke depan, arah harga emas bergantung pada apakah pengetatan The Fed semakin menguat. Kenaikan peluang suku bunga Desember, data inflasi yang lebih tinggi, atau penguatan dolar AS berkelanjutan dapat terus menekan harga. Sebaliknya, penurunan harga energi atau inflasi yang lebih rendah bisa membantu menstabilkan harga logam mulia.
Investor disarankan memantau komunikasi The Fed, harga minyak, nilai tukar dolar AS, dan data inflasi. Dengan posisi harga yang sudah lebih dari seperlima di bawah puncaknya, pergerakan emas ke depan sangat bergantung pada apakah pasar terus memperhitungkan kebijakan restriktif hingga jauh ke 2027.