Kementerian Kesehatan mencatat 174.694 kasus infeksi saluran pernapasan akut di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan sejak 18 Agustus hingga 21 September 2026, dengan 40.363 kasus di antaranya dialami balita. Data terkini menunjukkan 4.533 kasus masih aktif, sementara sisanya dinyatakan sembuh. Tujuh provinsi menjadi perhatian utama, termasuk Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan empat provinsi di Kalimantan.
JAKARTA — Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Then Suyanti menyampaikan data tersebut dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Jakarta. Menurutnya, penanganan kasus ISPA terus dilakukan seiring paparan asap karhutla yang masih berlangsung.
"Data untuk hari ini, ada 4.533. Jadi yang sisanya sudah sembuh atau sehat kembali," kata Then.
Tujuh Provinsi Jadi Perhatian Utama Kemenkes
Wilayah terdampak karhutla yang menjadi perhatian Kemenkes meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Ketujuh provinsi tersebut dipantau secara berkala karena tingginya paparan asap yang berisiko terhadap kesehatan warga, terutama kelompok rentan.
Balita menjadi kelompok yang paling terdampak. Dari total 174.694 kasus kumulatif, sebanyak 40.363 kasus terjadi pada anak di bawah lima tahun.
Konsentrator Oksigen hingga Labkesmas Dikerahkan
Kemenkes memperkuat posko kesehatan dan rumah sakit di daerah terdampak dengan mengirimkan peralatan serta logistik kesehatan. Bantuan yang dimobilisasi mencakup konsentrator oksigen, masker, dan tabung oksigen.
"Kita melakukan mobilisasi bantuan logistik berupa konsentrator oksigen, masker, tabung oksigen, dan termasuk menyiapkan Labkesmas untuk membantu pengujian kualitas udara, dan menggerakkan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) di kabupaten/kota," ujarnya.
Laboratorium Kesehatan Masyarakat disiapkan untuk menguji kualitas udara di wilayah terdampak. Tenaga Cadangan Kesehatan juga digerakkan di tingkat kabupaten dan kota guna mempercepat respons terhadap warga yang membutuhkan penanganan.
PJJ Direkomendasikan untuk Kurangi Paparan Asap pada Anak
Kemenkes mengeluarkan surat rekomendasi kepada pemerintah daerah agar mempertimbangkan penerapan pembelajaran jarak jauh. Langkah itu diambil untuk mengurangi paparan asap terhadap anak-anak yang termasuk kelompok rentan.
Menurut Then, upaya tersebut bertujuan agar anak-anak mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk akibat asap karhutla. Edukasi kepada masyarakat juga terus dilakukan bersamaan dengan pemantauan perkembangan kasus ISPA di daerah terdampak.
Kemenkes memastikan pemantauan kualitas udara, kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, dan ketersediaan logistik kesehatan terus dilakukan selama karhutla dan paparan asap masih terjadi.