GORONTALO — Pal8 Pictures membuka tabir pertama Laut Bercerita lewat trailer resmi yang dirilis pekan ini. Cuplikan dua menit itu langsung memperlihatkan atmosfer mencekam era akhir Orde Baru, lengkap dengan semangat perlawanan mahasiswa yang membara.
Film garapan sutradara Angga Dwimas Sasongko ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop tanah air pada 29 Oktober 2026. Penayangannya berdekatan dengan momen Sumpah Pemuda, sebuah pilihan tanggal yang terasa simbolis untuk sebuah kisah tentang keberanian anak muda.
Trailer memperkenalkan Biru Laut, diperankan Reza Rahadian, seorang mahasiswa yang aktif di kelompok diskusi Winatra. Ia dan kawan-kawannya memiliki idealisme kuat untuk memperjuangkan demokrasi dan keadilan di tengah tekanan rezim.
Cuplikan adegan memperlihatkan dinamika persahabatan yang erat di antara para anggota kelompok tersebut. Namun, ketegangan mulai terasa ketika aktivitas mereka terpantau oleh aparat, mengarah pada tragedi penghilangan paksa yang menjadi inti cerita.
Tokoh Biru Laut sendiri merupakan salah satu karakter sentral dalam novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori yang terbit pada 2017. Novel tersebut dikenal luas karena penggambarannya yang jujur tentang sejarah kelam Indonesia dan kisah cinta yang menyertainya.
Proses adaptasi novel menjadi film ini telah dinanti sejak lama oleh para pembaca setia Leila. Tim produksi menjanjikan sebuah pengalaman sinematik yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menggugah ingatan kolektif tentang masa lalu bangsa.
Selain Reza Rahadian, film ini juga dibintangi oleh sejumlah aktor dan aktris papan atas. Mereka di antaranya adalah Putri Ayudya, Yoga Pratama, dan Agla Artalidia, yang turut menghidupkan kisah pilu namun penuh haru ini.
Keterlibatan Reza Rahadian sebagai aktivis mahasiswa menjadi salah satu daya tarik utama. Aktor yang dikenal dengan kemampuan aktingnya yang dalam ini diharapkan mampu menghadirkan kompleksitas karakter Biru Laut, seorang pemuda yang harus kehilangan segalanya demi keyakinannya.
Latar belakang Laut Bercerita adalah masa-masa genting menjelang keruntuhan Orde Baru pada 1998. Lewat film ini, penonton muda diajak untuk melihat bagaimana perjuangan demokrasi dilakukan oleh generasi sebelumnya dengan pengorbanan yang sangat besar.
Kehadiran trailer sekaligus menegaskan bahwa industri film Indonesia tidak berhenti mengeksplorasi sejarah bangsa. Setelah sukses dengan berbagai genre, angkatan baru sinema kita kembali mengingatkan bahwa masa lalu adalah pelajaran paling berharga untuk masa depan.