GORONTALO — Pameran teknologi konsumen terbesar di Eropa, IFA 2026, akan berlangsung di Berlin mulai pekan depan. Berbeda dari ajang seperti CES yang kerap memamerkan konsep jauh dari kenyataan, IFA punya posisi unik: waktunya berdekatan dengan musim belanja liburan, sehingga mayoritas perangkat yang dipajang akan segera tersedia di pasaran. Tim Tom's Guide yang akan meliput langsung di Messe Berlin memprediksi beberapa tren besar, terutama pematangan implementasi AI yang tidak lagi sekadar tempelan fitur.
IFA 2026 disebut-sebut akan menjadi edisi terbesar dalam sejarah 102 tahun pameran ini untuk kategori komputasi. AMD dikabarkan akan membuka keynote, dan para produsen laptop siap meluncurkan produk-produk anyar mereka. Ini sinyal kuat bahwa pameran yang biasanya identik dengan TV dan peralatan rumah tangga kini mulai bergeser menjadi ajang peluncuran perangkat komputasi kelas berat.
Fokus utama ada pada pergeseran cara kerja AI. Alih-alih mengandalkan cloud, hampir semua CPU generasi baru kini punya NPU (Neural Processing Unit) khusus. Artinya, tugas-tugas AI seperti pengolahan gambar atau asisten virtual bisa berjalan sepenuhnya di perangkat, lebih cepat dan lebih privat. Tren "AI agent" yang bekerja mandiri di latar belakang juga diprediksi menjadi topik hangat, terutama dengan hadirnya laptop bertenaga Nvidia RTX Spark yang akan rilis musim gugur ini.
Bagi penggemar home theater, IFA selalu jadi ajang unjuk gigi teknologi layar. Samsung, LG, TCL, dan Hisense dipastikan akan memamerkan TV terbaik mereka, termasuk Samsung S95H OLED dan LG C6 OLED yang baru saja meraih penghargaan tertinggi dari Tom's Guide. Namun, yang paling menarik perhatian tahun ini adalah debut resmi Xiaomi di pameran tersebut.
Raksasa elektronik asal China ini kemungkinan besar akan membawa lini TV S Mini LED yang sudah beredar di beberapa negara Eropa. Ada juga peluang besar Xiaomi mengumumkan model baru untuk menandai kehadiran pertamanya di IFA, yang bisa menjadi alternatif menarik di pasar TV kelas menengah Eropa.
Rumah pintar tetap menjadi jantung pameran. Roborock akan menggelar keynote pembuka untuk memperkenalkan generasi terbaru robot vacuum mereka. Namun, ada isu besar yang membayangi: larangan penggunaan produk mereka di AS. Pertanyaannya kini, bagaimana para produsen robot vacuum asal China ini akan menavigasi regulasi yang semakin ketat tanpa mengorbankan fitur andalan seperti navigasi LiDAR.
Di sisi lain, Samsung memang mengurangi skala partisipasinya, tetapi tetap akan memamerkan mesin cuci anyar. AI pada mesin cuci generasi baru diprediksi bekerja lebih senyap di latar belakang, fokus pada efisiensi dan perawatan kain secara lokal, bukan sekadar fitur konektivitas yang tidak berguna.
Dunia audio di IFA tahun ini menarik karena dua arah yang berlawanan. Pertama, tren retro yang kembali digemari. Brand seperti We Are Rewind akan memamerkan pemutar kaset dan boombox bergaya klasik, sementara Marshall dan Status Audio diprediksi merilis produk dengan estetika serupa. Kedua, merek audio budget seperti JLab, EarFun, dan Edifier siap menguji produk terbaru mereka yang terkenal dengan rasio harga-ke-kualitas terbaik.
Sementara itu, di sektor wearable, fokusnya justru pada kesehatan yang tidak melulu soal layar. Fitbit dan Garmin baru saja merilis tracker tanpa layar, dan Oura meluncurkan cincin pintar flagship yang lebih tipis. IFA menjadi panggung bagi merek smart ring non-AS seperti RingConn, Ultrahuman, dan Circular yang dikabarkan akan meluncurkan produk baru. Selain itu, eksoskeleton bertenaga baterai untuk konsumen juga diprediksi kembali hadir dengan desain lebih ringkas, bersama dengan perangkat mobilitas listrik baru dari Segway dan bahkan Volkswagen.
Meski pameran ini menjanjikan banyak produk yang siap jual, ada beberapa catatan penting. Pertama, harga. Produk dengan AI generasi terbaru, terutama laptop dengan RTX Spark, dipastikan akan dibanderol tinggi. Kedua, ketersediaan global. Banyak perangkat seperti smart ring dari merek Eropa atau TV Xiaomi yang baru debut, belum tentu langsung masuk pasar Indonesia. Terakhir, soal privasi: meski AI lokal lebih aman, pastikan perangkat yang kamu incar punya dukungan software yang panjang agar fitur AI-nya tidak usang dalam setahun.