Universitas Negeri Gorontalo (UNG) memastikan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Profesi Kesehatan yang tersebar di 28 desa pada enam kecamatan di Kabupaten Gorontalo benar-benar menyentuh layanan kesehatan warga, bukan hanya pemenuhan syarat akademik. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNG pun mengerahkan tim untuk memantau langsung pelaksanaan program di lapangan.
GORONTALO — Universitas Negeri Gorontalo (UNG) memastikan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Profesi Kesehatan yang tersebar di 28 desa pada enam kecamatan di Kabupaten Gorontalo benar-benar menyentuh layanan kesehatan warga, bukan hanya pemenuhan syarat akademik. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNG pun mengerahkan tim untuk memantau langsung pelaksanaan program di lapangan.
Kepala Pusat KKN UNG, Dr Rosbin Pakaya, menegaskan bahwa KKN Profesi Kesehatan diarahkan sebagai wadah solusi atas persoalan kesehatan di tingkat desa, sekaligus ruang belajar mahasiswa di tengah masyarakat.
“Temuan di lapangan selanjutnya menjadi bahan evaluasi bagi mahasiswa, dosen pembimbing lapangan, maupun pengelola program untuk melakukan penyesuaian dan penguatan kegiatan hingga seluruh rangkaian KKN selesai,” kata Rosbin di Kota Gorontalo, Rabu.
Ketua LPPM UNG, Prof Lanto Ningrayati Amali, menegaskan monitoring dan evaluasi merupakan bagian penting untuk memastikan KKN tidak berhenti pada pemenuhan aspek administratif semata.
“UNG ingin memastikan program yang dilaksanakan mahasiswa benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dapat berjalan dengan baik. Ini juga sekaligus menjadi ruang evaluasi untuk melihat apa yang sudah berjalan dan apa yang masih perlu diperbaiki selama pelaksanaan KKN,” ujarnya.
Tim LPPM meninjau perkembangan kegiatan di lapangan, mulai dari pelaksanaan program kerja, keterlibatan mahasiswa dengan masyarakat, koordinasi dengan pemerintah desa, hingga peran dosen pembimbing lapangan dalam mendampingi mahasiswa.
Penempatan mahasiswa dari berbagai program studi bidang kesehatan dan kedokteran di 28 desa dinilai memberikan ruang pembelajaran yang luas untuk mengimplementasikan kompetensi selama perkuliahan dalam situasi nyata.
Menurut Prof Lanto, interaksi langsung dengan warga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami bahwa persoalan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan aspek klinis, tetapi juga dipengaruhi kondisi sosial, lingkungan, perilaku, serta keterlibatan keluarga dan masyarakat.
Selama masa pengabdian, mahasiswa menjalankan berbagai program kesehatan dengan melibatkan pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, serta masyarakat setempat.
UNG berharap kehadiran mahasiswa dapat memberikan kontribusi positif di setiap desa penempatan. Berbagai program yang dijalankan diharapkan mampu mendukung upaya peningkatan kesehatan masyarakat sekaligus menjadi pengalaman profesional bagi mahasiswa.
Monitoring yang dilakukan secara berkala juga menjadi ruang untuk mengidentifikasi berbagai kendala yang ditemui selama pelaksanaan KKN, sehingga bisa segera dicarikan solusi sebelum seluruh rangkaian kegiatan selesai.