GORONTALO — Mengutip Bloomberg, kurs rupiah sempat dibuka menguat tipis 4 poin di level Rp17.690 per dolar AS, sebelum akhirnya berbalik melemah hingga penutupan pasar. Tekanan terhadap mata uang Garuda datang dari dua arah: eksternal dan domestik.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan ancaman ini memicu eskalasi ketegangan di Selat Hormuz. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaee, bahkan mengancam akan menghentikan ekspor minyak melalui Selat Hormuz dan Teluk Persia jika tekanan ekonomi terus berlanjut.
"Perkembangan ini meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global," ujar Ibrahim dalam analisisnya, Senin (24/8). Ancaman ini datang di tengah data aktivitas bisnis AS yang masih kuat, dengan PMI Jasa S&P Global mencapai 56,8 pada Agustus, tertinggi sejak Desember 2024. Kondisi ini mempersempit ruang The Fed untuk menurunkan suku bunga, yang pada akhirnya mendukung penguatan dolar AS.
Pelebaran defisit ini utamanya dipicu oleh melonjaknya nilai impor minyak seiring tingginya harga minyak dunia. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena kenaikan harga energi global berpotensi menambah kebutuhan devisa Indonesia lebih besar lagi.
Meski demikian, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) secara keseluruhan masih relatif terjaga. Pada kuartal II 2026, NPI mencatat defisit US$900 juta, jauh lebih rendah dibandingkan defisit US$9,1 miliar pada kuartal sebelumnya. Perbaikan ini ditopang oleh transaksi modal dan finansial yang berbalik mencatat surplus US$12 miliar, setelah sebelumnya mengalami defisit US$4,8 miliar.
Dengan kombinasi tekanan eksternal dari kebijakan moneter AS yang ketat dan fundamental domestik yang melemah, pergerakan rupiah ke depan akan sangat bergantung pada eskalasi konflik Timur Tengah serta kemampuan pemerintah mengendalikan impor migas. Investor disarankan mencermati perkembangan kebijakan The Fed dan data perdagangan Indonesia berikutnya.