GORONTALO — Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, dinyatakan aman dan siap memasok listrik setelah gempa berkekuatan 7,7 skala Richter mengguncang Flores pada 14 Agustus 2026. Pemeriksaan menyeluruh pada turbin, generator, separator, condenser, dan cooling tower memastikan seluruh peralatan utama pembangkit berkapasitas 10 megawatt itu tidak mengalami kerusakan berarti.
Paragraf pembuka: Kepala Teknik Panas Bumi Wilayah Kerja Panas Bumi Ulumbu PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Proyek Nusra 2, Roya Ginting, menyatakan operasional PLTP Ulumbu Unit 5 tidak terganggu guncangan gempa. Kerusakan yang tercatat hanya retakan plester dinding pada pagar dan fasilitas pendukung, bukan pada peralatan inti pembangkit.
Mengapa Pasokan Sempat Ditahan
PLTP Ulumbu sebenarnya mampu menyalurkan listrik penuh seusai gempa. Namun PLN memilih menahan pasokan dari pembangkit panas bumi tersebut karena sejumlah pembangkit lain di sistem kelistrikan Flores mengalami kerusakan ringan, termasuk pergeseran mesin.
"Operasional PLTP Ulumbu Unit 5 tidak mengalami gangguan akibat gempa dan siap pasok listrik. Namun karena pembangkit lain mengalami kerusakan ringan maka pasokan listrik dari Ulumbu ditahan. Setelah pembangkit lain kembali siap, energi bersih dari PLTP Ulumbu kembali disalurkan," terang Roya saat ditemui di Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Senin (12/10).
Keputusan menahan pasokan itu bersifat sementara dan murni soal keamanan jaringan, bukan indikasi masalah pada instalasi panas bumi Ulumbu.
Rekam Jejak PLTP di Zona Gempa
Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menegaskan pembangkit panas bumi secara umum cukup tangguh menghadapi gempa. Alasannya, hampir semua PLTP dibangun di zona vulkanik-tektonik aktif sehingga sejak awal desainnya sudah memasukkan beban seismik.
Di Indonesia, acuan struktur mengikuti Standar Nasional Indonesia (SNI) 1726, dilengkapi standar internasional untuk perpipaan dan peralatan tekan. Rekam jejak global juga mendukung. PLTP di Jepang saat gempa Tohoku 2011, Selandia Baru, Filipina saat gempa Leyte 2017, hingga California, Amerika Serikat, umumnya hanya mengalami trip atau kerusakan terbatas dan kembali beroperasi dalam hitungan hari sampai minggu.
"Ketangguhannya bergantung pada komponen yang dilihat dan seberapa baik desain serta perawatannya," ucap Fabby.
Meski begitu, Fabby mengingatkan ada dua titik rentan. Pertama, sumur. Casing yang disemen relatif kokoh, tetapi bisa rusak jika patahan aktif bergeser tepat di jalurnya. Karena itu pemetaan patahan sebelum menentukan lokasi sumur menjadi krusial. Kedua, jaringan pipa uap dan brine yang membentang melewati medan tidak rata. Tanpa expansion loop, penyangga geser, dan sambungan fleksibel yang memadai, pipa berisiko bergeser, retak, atau bocor.
Posisi Ulumbu di Sistem Kelistrikan Flores
PLTP Ulumbu yang beroperasi saat ini berkapasitas 4 x 2,5 MW atau setara 10 MW. Listriknya masuk ke sistem kelistrikan Flores yang sudah terinterkoneksi dan berperan menekan ketergantungan pada PLTD serta PLTMG berbahan bakar minyak impor yang mahal dan rawan terganggu pasokan saat bencana.
Wilayah Kerja Panas Bumi Ulumbu membentang seluas 18.280 hektare, dengan lahan pengembangan baru terpakai 21 hektare. Potensinya mencapai 200 MW, berdasarkan penugasan melalui Kepmen ESDM No. 5099 K/30/MEM/2016 tertanggal 15 April 2016 untuk jangka waktu 35 tahun. Artinya, baru sebagian kecil potensi yang dimanfaatkan.
PLN sedang mengembangkan Unit 5 dan Unit 6, masing-masing berkapasitas 2 x 20 MW atau total 40 MW. Jika rampung, total pasokan PLTP Ulumbu akan mencapai 50 MW. Pengembangan Unit 6 masih ditahan sementara, sedangkan Unit 5 sudah masuk fase pembangunan infrastruktur. PLN akan mengebor dua sumur, satu sumur produksi dan satu sumur injeksi, di Desa Wewo dan Desa Wae Ajang.
Kemandirian Energi di Pulau Rawan Bencana
Pengamat Energi Baru dan Terbarukan dari Center for Renewable Energy Studies (ICRES), Surya Darma, menilai gempa Flores menjadi pembelajaran berharga. Ketika sumber energi berasal dari dalam pulau sendiri, listrik tidak langsung padam total saat bencana karena tidak bergantung pada kiriman bahan bakar minyak dari luar.
"Akselerasi pembangunan proyek panas bumi di Flores, seperti perluasan Ulumbu dan titik prospek lainnya, adalah investasi jangka panjang terbaik untuk mewujudkan kemandirian dan ketahanan energi terbarukan yang tangguh bencana," tegas Surya Darma.
Flores sendiri dikenal sebagai Pulau Geothermal berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 2268 K/30/MEM/2017 yang disahkan 19 Juni 2017. Potensi panas bumi di pulau itu mencapai 900 sampai 1.000 MW, tersebar di 17 hingga 31 titik lokasi.
Roya menambahkan ketahanan energi Flores harus terus dijaga lewat kehadiran pembangkit sendiri, terutama panas bumi. "Dengan begitu, ketika bencana datang, ketahanan energi tetap terjaga dan masyarakat tidak gelap gulita," ungkapnya.
Penutup: Bagi PLN, keandalan PLTP Ulumbu pascagempa memperkuat alasan mempercepat pengembangan panas bumi di Flores, terutama menjelang bertambahnya beban sistem dari kawasan wisata Labuan Bajo. Dengan potensi 200 MW yang baru terpakai 10 MW, Ulumbu masih menyimpan ruang besar untuk menjadi tulang punggung listrik NTT di masa depan.