GORONTALO — Survei Populix mengungkap perempuan menjadi penopang utama belanja pariwisata Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi. Kelompok ini konsisten menyisihkan anggaran untuk traveling, berbeda dari pria yang cenderung membelanjakan uang untuk renovasi rumah atau kendaraan. Temuan ini dipaparkan dalam paparan survei Populix di Jakarta, Rabu, 7 Oktober 2026.
Senior Research Director Populix Indah Tanip memaparkan hasil survei yang menunjukkan perbedaan tren belanja antarsegmen demografi. Perempuan lebih memilih mengalokasikan anggaran untuk berwisata dibandingkan membeli barang konsumtif.
Perbedaan Pola Belanja Pria dan Perempuan
Survei Populix menemukan pola pengeluaran yang kontras antara dua kelompok. Pria cenderung mengarahkan dana besar untuk kebutuhan properti atau otomotif.
"Kalau untuk perempuan, mereka lebih memilih menggunakannya untuk jalan-jalan atau traveling. Bahkan sebagian besar perempuan memilih tidak membeli barang apa pun dan lebih menahan uangnya, tetapi kalaupun dikeluarkan, lebih banyak digunakan untuk jalan-jalan," ujar Indah Tanip dalam paparan survei Populix di Jakarta, Rabu, 7 Oktober 2026.
Kelompok perempuan disebut lebih menahan diri dari belanja sekunder harian. Dana yang tersisa justru dialokasikan untuk perjalanan wisata.
Mengapa Sektor Pariwisata Tetap Tahan Banting
Indah menilai fenomena ini menjadi angin segar bagi industri pariwisata nasional. Daya beli masyarakat pada sektor ini relatif tidak terganggu meski dihadapkan pada tantangan ekonomi makro.
Menurutnya, kecenderungan responden dari kelompok perempuan serta segmen berpenghasilan menengah ke atas yang tetap menyisihkan tabungan untuk berwisata membuktikan traveling telah menjadi kebutuhan gaya hidup.
"Kemungkinan besar industri tourism ini akan resilient. Meskipun harga BBM naik atau biaya tiket pesawat naik, sektor ini lebih tahan banting karena kita melihat mereka masih menyimpan budget untuk traveling sesuai hobi mereka," tambah Indah.
Konsumen Kendalikan Alur Kas Pribadi
Populix mencatat konsumen saat ini sangat cermat dan memegang kendali penuh atas alur kas pribadi mereka. Belanja barang sekunder harian dibatasi, tetapi alokasi dana khusus untuk liburan tetap dijaga.
Perilaku ini membuat sektor pariwisata lebih resilien dibandingkan sektor ritel barang konsumtif. Tekanan ekonomi jangka pendek tidak serta-merta memangkas anggaran perjalanan yang sudah direncanakan.
Implikasi bagi Pelaku Usaha Wisata
Temuan survei ini memberi sinyal bagi pelaku usaha wisata untuk menyasar segmen perempuan dan kelas menengah ke atas. Paket perjalanan, akomodasi, dan pengalaman wisata yang dirancang sesuai preferensi kelompok ini berpotensi menangkap pasar yang tetap stabil.
Meski demikian, pelaku usaha perlu mencermati sensitivitas harga tiket pesawat dan bahan bakar. Kenaikan biaya transportasi tetap menjadi variabel yang memengaruhi keputusan perjalanan, walau tidak serta-merta menghentikan niat berwisata.