Pencarian

Pertamax Diproyeksi Naik hingga 11% Oktober 2026, Pertamina Berpotensi Tanggung Rp1,4 Triliun/Bulan

Kamis, 01 Oktober 2026 • 12:50:01 WIB
Pertamax Diproyeksi Naik hingga 11% Oktober 2026, Pertamina Berpotensi Tanggung Rp1,4 Triliun/Bulan
Harga Pertamax diproyeksi naik hingga 11% pada 1 Oktober 2026 seiring lonjakan harga minyak mentah dunia.

GORONTALO — Harga Pertamax diproyeksi naik hingga 11% pada 1 Oktober 2026 seiring lonjakan minyak mentah dunia yang hampir menembus US$107 per barel. Jika pemerintah menahan harga, PT Pertamina (Persero) diperkirakan harus menanggung selisih terhadap harga formula sekitar Rp1,06 triliun per bulan, dengan potensi membengkak hingga Rp1,4 triliun per bulan.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot Tanjung memberi sinyal penyesuaian harga BBM nonsubsidi akan berlaku pada periode Oktober 2026. Pernyataan itu disampaikan di sela agenda Hari Pertambangan dan Energi di Jakarta, Selasa (29/9/2026).

"Pertalite tidak ada kenaikan [sampai akhir tahun], tetapi kalau yang nonsubsidi, ini akan disesuaikan dengan harga pasar. Kita lihat rata-rata dalam satu bulan kira-kira penyesuaiannya berapa," ujar Yuliot kepada awak media. Ia menambahkan, "Ada penyesuaian [harga BBM nonsubsidi]."

Yuliot menjelaskan lonjakan harga minyak mentah global berdampak langsung terhadap pasokan domestik. Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan energi nasional.

Proyeksi Harga Pertamax dan Produk Nonsubsidi Lain

Pengamat energi Yayan memperkirakan harga Pertamax naik hingga 11% jika proyeksi tersebut terealisasi. Sejumlah produk BBM nonsubsidi lain juga berpotensi mengalami penyesuaian pada 1 Oktober 2026.

  • Pertamax Green 95: dari Rp19.150/liter menjadi Rp21.200/liter
  • Pertamax Turbo: dari Rp19.600/liter menjadi Rp21.450/liter
  • Dexlite: dari Rp23.700/liter menjadi Rp25.000/liter
  • Pertamina Dex: dari Rp25.200/liter menjadi Rp26.600/liter

Beban Pertamina Jika Harga Ditahan

Jika pemerintah masih menahan harga Pertamax yang tidak mendapatkan kompensasi APBN, Yayan memperhitungkan PT Pertamina (Persero) harus menanggung selisih terhadap harga formula sekitar Rp1,06 triliun per bulan. Angka itu dihitung dengan asumsi volume konsumsi 14.200 kiloliter (kl) per hari.

"Mengingat lonjakan harga pasar internasional saat ini, potensi beban keuangan yang ditanggung Pertamina bahkan diperkirakan membengkak hingga menyentuh Rp1,4 triliun/bulan," katanya.

Transparansi Harga dan Opsi Jangka Menengah

Yayan menyarankan pemerintah bersikap transparan dalam menyampaikan kebijakan penyesuaian harga BBM. Menurutnya, keterbukaan membantu menjaga kepercayaan publik dan stabilitas pasar.

"[Hal] yang sebaiknya dilakukan, untuk jangka pendek, adalah umumkan harga beserta alasannya secara terbuka. Kenaikan kecil yang dapat diperkirakan lebih mudah diterima daripada kejutan," ujar Yayan.

Untuk jangka menengah, ia merekomendasikan penyesuaian harga dilakukan lebih sering dengan skala lebih kecil. Tujuannya mencegah penumpukan beban lonjakan harga secara drastis.

Pertalite Dipastikan Tidak Naik hingga Akhir Tahun

Pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi, yaitu Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite, tidak mengalami kenaikan hingga akhir tahun ini. Kepastian itu disampaikan di tengah fluktuasi harga minyak dunia yang terus bergerak naik.

Bagi pengguna kendaraan bermotor di Indonesia, penyesuaian harga nonsubsidi berarti biaya pengisian bahan bakar harian berpotensi bertambah mulai awal Oktober 2026. Besaran finalnya akan bergantung pada rata-rata harga pasar dalam satu bulan yang dihitung pemerintah.

Follow kabargorontalo.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: bloombergtechnoz.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks