GORONTALO — Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Gorontalo, Moh. Ridwan Matoka, menegaskan bahwa petugas POPT berperan sebagai garda terdepan dalam menjaga kesehatan tanaman dan mengawal ketahanan pangan daerah. Pelatihan berlangsung 23-25 September 2026 di lingkungan UPTD Balintan Gorontalo.
Menurut Ridwan Matoka, pengamatan sistematis serta pelaporan cepat dan akurat menjadi dasar penentuan langkah pengendalian yang efektif. Hal itu juga untuk mengantisipasi ancaman kegagalan panen akibat serangan hama maupun dampak perubahan iklim.
Empat Komponen yang Ditekankan dalam Pelatihan
Ridwan Matoka menyebut tugas POPT tidak hanya menemukan adanya serangan OPT. Cakupannya meliputi pengamatan sistematis, identifikasi OPT dan DPI, penentuan tingkat atau intensitas serangan, hingga penyampaian laporan secara cepat dan akurat.
Data dan informasi yang dihasilkan petugas POPT menjadi dasar pengambilan keputusan, baik di tingkat lapangan maupun pemerintah daerah. Karena itu, pengamatan perlu dilakukan rutin, tepat waktu, objektif, dan berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
Deteksi dini disebut menjadi kunci agar tindakan pengendalian dapat dilakukan sebelum serangan meluas. Selain ancaman organisme pengganggu tumbuhan, petugas juga diminta memperhatikan dampak perubahan iklim seperti kekeringan, banjir, dan cuaca ekstrem yang memengaruhi produktivitas tanaman.
Metode Hybrid dan Kerja Sama dengan BKPSDM
Pelatihan dilaksanakan dengan metode hybrid, memadukan pembelajaran daring dan luring. Peserta memanfaatkan aplikasi Learning Management System (LMS) hasil kerja sama dengan BKPSDM Provinsi Gorontalo.
Metode tersebut memungkinkan peserta mempelajari materi secara mandiri tanpa terikat waktu dan tempat. Pembelajaran tetap mendukung pelaksanaan tugas di lapangan.
Narasumber dan fasilitator kegiatan berasal dari Direktorat Perlindungan Tanaman Kementerian Pertanian, Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP Gorontalo), serta Komunitas Penyuluh Antikorupsi (KOMPAK).
Kualitas Pelaporan Jadi Perhatian
Kualitas pelaporan turut menjadi perhatian dalam pelatihan ini. Laporan yang disampaikan harus akurat, lengkap, tepat waktu, dapat dipertanggungjawabkan, serta menggambarkan kondisi nyata di lapangan.
Informasi tersebut menjadi bahan penting dalam menentukan langkah pengendalian dan tindak lanjut terhadap berbagai potensi ancaman. Tujuannya agar target produksi pertanian tidak terhambat.
Peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru, tetapi juga mampu menerapkannya di wilayah kerja masing-masing. Petugas POPT didorong meningkatkan ketelitian pengamatan, kemampuan analisis, serta membangun koordinasi dengan penyuluh dan kelompok tani.
Dari Menunggu Laporan ke Deteksi Dini
Dalam arahannya, Ridwan Matoka menekankan perubahan pola kerja petugas POPT. Ia menyebut POPT harus menjadi mata dan telinga pemerintah dalam menjaga keselamatan tanaman dan mengawal produksi pertanian.
"Kita harus bergerak dari pola menunggu laporan menjadi pola deteksi dini, respons cepat, dan pengendalian yang tepat," tegasnya.
Peningkatan kapasitas petugas POPT diharapkan berdampak nyata terhadap pengawalan program pertanian, termasuk PMAAS. Program itu mendukung peningkatan produksi pertanian di Provinsi Gorontalo.
UPTD Balai Pelatihan Teknis Pertanian Provinsi Gorontalo berharap peningkatan kompetensi petugas POPT memperkuat sistem perlindungan tanaman. Selain itu, meningkatkan kualitas data dan informasi pertanian serta memberi kontribusi terhadap keberlanjutan produksi dan penguatan ketahanan pangan daerah.