GORONTALO — Paragraf pembuka: Perusahaan anak PLN di lini pengadaan energi primer itu menyatakan ruang pengembangan biomassa nasional masih terbuka lebar. Dari potensi sekitar 80 juta ton per tahun yang dihimpun bersama pelaku industri, baru sekitar 20 juta ton yang sudah dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Artinya, sebagian besar pasokan masih menganggur dan bisa dialihkan untuk mendukung pembangkit listrik.
Dari 2,5 Juta Ton ke 3,4 Juta Ton
Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir menyebut pihaknya menaikkan target pasokan tahun ini setelah realisasi tahun lalu menyentuh angka 2,5 juta ton. Angka tersebut diklaim menempatkan PLN sebagai perusahaan terbesar di Asia yang memakai biomassa untuk co-firing PLTU.
"Tahun lalu kami baru mencapai sekitar 2,5 juta ton. Tahun ini kami akan mencapai sekitar 3,4 juta ton biomassa untuk disediakan kepada seluruh perusahaan kami," kata Hokkop, Kamis (10/9/2026).
Dari sisi pemanfaatan, PLN sendiri menyerap sekitar 2,5 juta ton biomassa untuk mendukung program co-firing. Sisanya disalurkan ke berbagai kebutuhan lain di lingkungan perusahaan.
70 Persen Pasokan Berasal dari Residu
Hokkop menegaskan peningkatan volume pasokan harus berjalan seiring prinsip keberlanjutan. Sekitar 70 persen biomassa yang dipakai PLN berasal dari residu, mencakup limbah industri kehutanan, industri kertas, dan sektor agro.
Pendekatan itu membuat biomassa tidak sekadar menjadi substitusi sebagian batu bara di pembangkit. Material yang sebelumnya hanya menjadi sisa kegiatan industri kini punya nilai guna lebih tinggi dan masuk ke rantai pasok energi.
PLN EPI juga mengevaluasi sumber biomassa memakai pendekatan Life Cycle Assessment (LCA). Evaluasi ini menjadi alat untuk memastikan rantai pasok tidak mendorong praktik deforestasi.
"Kami sudah membuat kalkulasi menggunakan LCA. Kami memilih partner dengan meminta mereka memenuhi semua data dari sumber biomassa. Kami anti deforestasi," tutur Hokkop.
Mengapa Pasokan Belum Terserap Maksimal
Selisih antara potensi 80 juta ton dan realisasi 20 juta ton menunjukkan masih ada pekerjaan rumah di sisi hulu. Pasokan dari sektor industri belum sepenuhnya terpetakan, sementara permintaan dari pembangkit bergantung pada kesiapan teknis dan ekonomi masing-masing PLTU.
Bagi PLN EPI, memperbesar serapan biomassa berarti memperluas basis pemasok residu, memperkuat verifikasi data asal bahan, dan menjaga biaya pengadaan tetap kompetitif dibanding batu bara. Tiga hal itu menentukan seberapa cepat target 3,4 juta ton bisa direalisasikan tahun ini.
Penutup: Jika target tercapai, porsi biomassa dalam bauran energi nasional akan naik signifikan dibanding tahun lalu. Langkah PLN EPI ini sekaligus menguji seberapa siap rantai pasok residu dalam negeri menopang transisi energi tanpa mengorbankan hutan.