GORONTALO — Kenaikan harga jagung mulai dirasakan konsumen di Pasar Sentral Kota Gorontalo. Oma Nana, pedagang jagung yang telah puluhan tahun berjualan di pasar tersebut, mengungkapkan bahwa harga jagung manis naik signifikan dalam sepekan terakhir.
"Dulu Rp10 ribu dapat lima tongkol, sekarang cuma tiga tongkol. Isi jagung juga kering dan menyusut karena cuaca panas," ujar Oma Nana, Sabtu.
Kualitas Jagung Menyusut Akibat Cuaca Panas
Menurut Oma Nana, penurunan kualitas tidak hanya terjadi pada jagung manis, tetapi juga pada varietas BISI-2 dan hibrida. Kedua jenis jagung tersebut kini dijual sekitar Rp10 ribu per liter di tingkat pedagang. Padahal sebelumnya, harga tersebut bisa mendapatkan volume yang lebih besar dengan kualitas yang lebih baik.
"Jagung butuh air yang cukup biar tumbuh subur. Kalau kemarau datang lebih awal, hasilnya menyusut bahkan bisa gagal panen," jelasnya. Tanaman jagung membutuhkan waktu sekitar 70 hari hingga siap panen. Jika sejak awal masa pertumbuhan sudah mengalami kekeringan, petani berpotensi tidak memperoleh hasil yang optimal.
Jagung BISI-2 dan Hibrida Paling Terdampak
Oma Nana menambahkan, varietas BISI-2 dan hibrida paling terdampak karena umumnya ditanam di lahan luas yang jauh dari sumber air. Kondisi berbeda terjadi pada jagung manis. Meski ikut mengalami kenaikan harga, jagung manis dinilai masih memiliki peluang produksi lebih baik karena dibudidayakan di lahan sekitar kawasan sungai sehingga kebutuhan air relatif terjaga.
Kemarau panjang yang melanda Gorontalo dalam beberapa pekan terakhir membuat pasokan jagung ke pasar tradisional menurun drastis. Pedagang kesulitan mendapatkan stok dari petani karena hasil panen menyusut. Hal ini mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen sekaligus meningkatkan risiko gagal panen pada musim kemarau.
Belum ada pernyataan resmi dari Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo mengenai langkah antisipasi atau bantuan bagi petani. Namun, para pedagang berharap hujan segera turun agar pasokan jagung kembali normal dan harga bisa stabil.