GORONTALO — Saham PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) kembali anjlok pada perdagangan Rabu (14/10/2026) setelah Rahayu Saraswati D. Djojohadikusumo mundur dari jabatan Komisaris Utama. Pengunduran diri keponakan Presiden Prabowo Subianto itu memperpanjang koreksi saham TRIN yang sebelumnya sempat reli tajam pada awal 2026.
Perusahaan menerima surat pengunduran diri Rahayu pada 7 Oktober 2026, lalu keterbukaan informasi disampaikan dua hari berselang. Manajemen TRIN memastikan mundurnya Rahayu tidak berdampak material terhadap operasional, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha perseroan.
Penurunan saham TRIN menambah rentetan tekanan yang sudah berlangsung sejak beberapa waktu terakhir. Sebelumnya, saham emiten properti ini sempat melonjak tajam pada awal 2026 seiring masuknya nama Rahayu ke jajaran komisaris.
Reli tersebut banyak dikaitkan pasar dengan faktor sentimen politik, bukan kinerja fundamental perseroan. Kini, ketika tokoh yang menjadi magnet spekulasi itu angkat kaki, pasar merespons dengan aksi jual berlanjut.
Rahayu menegaskan keputusannya hanya berkaitan dengan jabatan di jajaran komisaris. Ia memastikan pengunduran diri itu tidak menyentuh kepemilikan sahamnya di TRIN.
Pernyataan tersebut sekaligus menepis spekulasi bahwa mundurnya dia terkait persoalan lain di luar urusan tata kelola perusahaan. Manajemen TRIN juga menyampaikan hal senada soal tidak adanya dampak material dari perubahan komposisi dewan komisaris.
Bagi pemegang saham, kasus TRIN menjadi pengingat soal risiko saham yang harganya digerakkan sentimen figur, bukan kinerja. Ketika pemicu sentimen hilang, harga bisa kembali ke level yang mencerminkan fundamental sebenarnya.
Investor disarankan mencermati laporan keuangan perseroan, termasuk pendapatan pra-penjualan, beban utang, dan arus kas, untuk menilai apakah harga saham saat ini sudah wajar. Perhatikan juga rencana penggantian posisi Komisaris Utama yang kosong, karena menentukan arah tata kelola ke depan.
Sejauh mana koreksi TRIN berlanjut akan bergantung pada apakah pasar menemukan alasan baru untuk kembali membeli, atau justru menunggu perbaikan kinerja riil perusahaan.