Pengepul Lobster di Boalemo Kembangkan Kedai Kuliner, Harga Sajian Siap Masak Capai Rp 2 Juta

Penulis: Haris Maulana  •  Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:55:01 WIB
Yulfa Sabiku, pengepul lobster di Boalemo, mengolah hasil tangkapan menjadi menu siap saji di kedai kulinernya.

Yulfa Sabiku, pengepul lobster di Desa Bajo, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, tidak hanya menjual hasil laut dalam kondisi segar. Ia mengolah sebagian tangkapan nelayan menjadi menu siap saji di kedainya, dengan harga jual yang melonjak hingga Rp 2 juta per porsi untuk jenis lobster mutiara.

BOALEMO — Kedai kelolaan Yulfa Sabiku di Desa Bajo, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, menyajikan lobster yang diolah sesuai permintaan pengunjung, mulai dari dimasak dengan santan, saus, hingga dibakar. Langkah ini ditempuh untuk menambah nilai jual komoditas di tengah pasokan lobster dari nelayan yang belakangan menurun.

Harga Sajian Lobster: dari Rp 400 Ribu hingga Rp 2 Juta

Yulfa menjelaskan, pengolahan lobster menjadi menu siap saji memberikan keuntungan lebih dibandingkan menjual dalam keadaan mentah. Selisih harganya cukup signifikan tergantung jenis dan ukuran.

Untuk lobster kipas yang telah dimasak, ia membanderol sekitar Rp 400 ribu. Sementara itu, lobster bambu dijual dengan kisaran harga Rp 500 ribu hingga Rp 700 ribu.

"Lobster mutiara dibanderol sekitar Rp 1,3 juta hingga Rp 1,5 juta dan dapat mencapai Rp 2 juta," kata Yulfa, Minggu.

Kedai Juga Menjadi Magnet Wisatawan Asing

Usaha kuliner yang dikembangkan sejak 2024 itu rupanya menarik minat wisatawan mancanegara. Yulfa menyebutkan, pengunjung kedainya tidak hanya berasal dari rombongan instansi yang mengadakan kegiatan, tetapi juga turis asal Korea dan China.

Kehadiran kedai ini sekaligus menjadi tujuan alternatif bagi wisatawan yang berkunjung ke Desa Bajo. Fasilitas ruangan yang tersedia juga kerap dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan instansi.

Diversifikasi Produk untuk Selamatkan Hasil Tangkapan

Tidak hanya mengolah lobster, Yulfa juga memberdayakan hasil tangkapan ikan berukuran kecil yang kerap bercampur dengan lobster. Ikan-ikan tersebut diolah menjadi ikan asin agar tetap memiliki nilai ekonomi dan tidak terbuang percuma.

"Tangkapan juga bercampur banyak ikan kecil, maka kami berdayakan dengan buat ikan asin biar tidak terbuang," ujarnya.

Diversifikasi produk ini menjadi strategi Yulfa untuk menjaga keberlangsungan usaha. Ketika hasil tangkapan lobster dari nelayan lokal sedang menurun, pendapatan dari sektor kuliner dan olahan ikan asin diharapkan bisa menopang ekonomi.

Reporter: Haris Maulana
Sumber: gorontalo.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top